Sah-sah saja mengatakan sarden kalengan bukan ultra processed food (UPF), faktanya banyak yang formulasinya memang terlalu simpel untuk masuk kategori tersebut. Justru yang lebih penting untuk dipastikan adalah kemasan, jangan sampai penyok atau kembung.
Dalam kaitannya dengan keamanan pangan, bentuk kaleng yang berubah bukan sekadar masalah tampilan. Meski terlihat sepele, kaleng yang penyok dan menggembung bisa menjadi tanda bahwa keamanan makanan di dalamnya mulai diragukan.
Kondisi kaleng kemasan yang perlu diperhatikan adalah ketika tampak menggembung atau bahkan penyok.
Kaleng Menggembung
Makanan kaleng dibuat dalam kondisi steril dan kedap udara. Setelah makanan dimasukkan, kaleng dipanaskan dengan suhu tinggi untuk membunuh mikroorganisme, lalu disegel rapat agar bakteri tidak masuk kembali.
Masalah muncul ketika segel mulai rusak atau ada mikroorganisme yang berhasil berkembang di dalam kemasan. Aktivitas bakteri dapat menghasilkan gas yang perlahan mendorong dinding kaleng hingga tampak menggembung.
Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Salah satu bakteri yang paling sering dikaitkan dengan makanan kaleng rusak adalah Clostridium Botulinum yang dapat menghasilkan racun/toksin berbahaya dan menyerang sistem saraf.
Sebuah penelitian yang terbit di Journal of Veterinary Research tahun 2022 menemukan adanya pertumbuhan bakteri Clostridium pada sampel ikan kaleng yang menggembung akibat terbentuknya gas di dalam kemasan.
Yang membuatnya berbahaya, makanan yang sudah terkontaminasi tidak selalu berubah warna atau berbau busuk. Kadang isi sarden masih tampak normal ketika dibuka.
Karena itu, kaleng yang sudah menggembung sebaiknya langsung dihindari meski tanggal kedaluwarsanya masih panjang.
Simak Video "Video Makanan UPF Jadi Aduan Terbanyak yang Diterima MBG Watch"
(mal/up)