Saat Idul Adha, tidak jarang masakan daging biasanya melimpah di rumah. Gulai, rendang, semur, sampai tongseng sering dimasak dalam porsi besar supaya bisa dinikmati beberapa kali dalam beberapa hari ke depan. Karena porsinya besar, masakan yang sama pun kerap dipanaskan berulang kali.
Sekilas terlihat aman aman saja. Padahal, kebiasaan memanaskan masakan daging berulang kali bisa memengaruhi kualitas makanan, mulai dari rasa, tekstur, hingga keamanan pangannya bila proses penyimpanannya kurang tepat.
Pemanasan Berulang Bisa Menurunkan Kualitas Gizi
Selain memengaruhi rasa dan tekstur, pemanasan berulang pada masakan daging juga dapat memicu oksidasi lemak dan berkurangnya kandungan vitamin yang sensitif terhadap panas.
Penelitian dalam jurnal Food Chemistry tahun 2026 menjelaskan pemanasan ulang dapat meningkatkan pembentukan senyawa hasil oksidasi lemak yang memengaruhi kualitas makanan. Kondisi ini membuat aroma masakan berubah, muncul rasa tengik, dan kualitas gizinya perlahan menurun.
Risiko ini biasanya lebih besar pada masakan bersantan atau makanan dengan kandungan lemak tinggi seperti gulai dan rendang yang dipanaskan berkali kali dalam waktu beberapa hari.
Meski begitu, bahaya terbesar sebenarnya bukan sekadar dari proses dipanaskan ulangnya, melainkan dari cara penyimpanan makanan setelah matang. Masakan daging yang terlalu lama berada di suhu ruang memberi kesempatan bakteri berkembang lebih cepat.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, bakteri dapat berkembang cepat pada suhu antara 4 hingga 60 derajat Celsius atau yang dikenal sebagai danger zone.
Simak Video "Video: Dokter Tegaskan Makan Daging Bukan Pemicu GERD!"
(mal/up)