Banyak orang mengaku pernah mengalami sakit perut setelah minum susu UHT (Ultra High Temperature Processing). Tak sedikit yang kemudian menduga penyebabnya adalah susu yang tidak higienis atau terkontaminasi bakteri dari pabrik.
Namun, benarkah demikian? Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Epi Taufik, S.Pt, MVPH., M.Si, mengatakan sakit perut setelah minum susu UHT tidak selalu berarti susunya bermasalah. Saat ditemui detikcom dalam acara Frisian Flag Temani Langkahmu, Kini dan Nanti, Minggu (31/5/2026), ia menjelaskan ada beberapa kemungkinan yang perlu ditelusuri lebih lanjut sebelum menyimpulkan penyebabnya.
Belum Tentu karena Bakteri dari Pabrik
Prof Epi mengatakan penyebab sakit perut setelah minum susu UHT perlu dilihat kasus per kasus. Menurutnya, keluhan tersebut tidak bisa langsung dikaitkan dengan proses produksi susu atau bakteri dari pabrik.
"Tergantung. Kita harus selidiki lebih jauh. Apakah susu UHT yang diminumnya sudah mulai busuk karena penyimpanan setelah dibuka yang terlalu lama," ujarnya.
Menurut Prof Epi, jika penyebabnya memang berkaitan dengan bakteri, hal itu umumnya terjadi karena susu sudah mengalami kerusakan selama penyimpanan setelah kemasan dibuka, bukan karena proses UHT itu sendiri.
Bisa karena Bakteri, Bisa karena Infeksi atau Toksin
Prof Epi menjelaskan susu yang mulai rusak tidak selalu langsung menunjukkan tanda-tanda yang mudah dikenali. Meski belum menggumpal atau berlendir, jumlah bakteri di dalamnya bisa saja sudah meningkat.
"Bisa tadi karena infeksi bakteri. Karena susu UHT-nya sudah mulai busuk. Diminum. Artinya bakterinya sudah banyak. Tapi belum terjadi kerusakan yang nampak, katakanlah menggumpal misalnya. Berlendir belum. Tapi kandungan bakterinya sudah tinggi," jelasnya.
Menurutnya, dalam kondisi seperti itu seseorang dapat mengalami gangguan pencernaan akibat bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Kondisi ini dikenal sebagai food infection. Selain itu, bakteri yang berkembang di dalam susu juga dapat menghasilkan toksin atau racun.
"Atau bakterinya sudah tinggi, dia bikin toksin. Jadi di susunya sudah ada toksin. Terus susunya kita minum. Biasanya cepat, tidak lama. Terjadi yang kita sebut food poisoning," kata Prof Epi.
Ia menjelaskan, terdapat perbedaan antara food infection dan food poisoning atau food intoxication. Pada food infection, bakteri masuk terlebih dahulu ke dalam tubuh dan membutuhkan waktu untuk berkembang biak sebelum menimbulkan gejala. Karena itu, biasanya terdapat jeda waktu atau masa inkubasi sebelum seseorang mulai merasakan keluhan.
"Kalau bakteri masuk ada jeda waktu. Itu yang disebut masa inkubasi. Sampai terasa. Kalau tidak lama diminum langsung terasa, itu keracunan," jelasnya.
Simak Video "Video: Dokter Tegaskan Makan Daging Bukan Pemicu GERD!"
(fti/up)