Diet Super Ketat ala CR7, Sehatkah untuk Ditiru? Ini Plus-Minusnya

Inspirasi Diet dari Lapangan Bola

Diet Super Ketat ala CR7, Sehatkah untuk Ditiru? Ini Plus-Minusnya

detikHealth
Sabtu, 20 Jun 2026 06:02 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
HOUSTON, TEXAS - JUNE 17: Cristiano Ronaldo #7 of Portugal reacts during the FIFA World Cup 2026 Group K match between Portugal and Congo DR at Houston Stadium on June 17, 2026 in Houston, Texas. (Photo by Alex Slitz/Getty Images)
Cristiano Ronaldo. Foto: Getty Images/Alex Slitz
Jakarta -

Cristiano Ronaldo alias CR7 dikenal sebagai salah satu bintang sepak bola dengan disiplin paling tinggi dalam menjaga pola makan. Di tengah banyaknya atlet yang tetap memberikan ruang untuk cheat meal atau hari bebas makan, penyerang sekaligus kapten Timnas Portugal ini memilih pendekatan yang jauh lebih ketat.

Mantan chef pribadinya, Giorgio Barone, mengungkapkan bahwa Ronaldo menjalani pola makan yang sangat terkontrol tanpa memberikan toleransi untuk keluar dari aturan yang telah ditetapkan.

"Dia mengonsumsi makanan biasa seperti orang normal. Tidak ada cheat day. Tidak ada kompromi," kata Barone dalam sebuah wawancara, dikutip dari Gulf News.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedisiplinan tersebut membuat pola makan Ronaldo sering disebut sebagai 'no-cheat diet'. Namun, pertanyaan yang menarik untuk dibahas adalah apakah pola makan seketat ini benar-benar diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, atau justru memiliki sisi yang perlu diperhatikan?

ADVERTISEMENT

Pola Makan Atlet dengan Non Atlet Berbeda

Pola makan super ketat seperti yang dijalankan Cristiano Ronaldo sebenarnya tidak bisa disamakan dengan kebutuhan sehari-hari non atlet. Sebagai atlet profesional, setiap makanan yang dikonsumsi memiliki tujuan tertentu, mulai dari menjaga komposisi tubuh, mempertahankan massa otot, memenuhi kebutuhan energi, hingga mendukung pemulihan setelah latihan dan pertandingan.

Sementara itu, kebutuhan gizi pada kehidupan sehari-hari non atlet tidak selalu menuntut aturan makan yang seketat atlet. Pola makan sehat lebih menekankan keseimbangan dan keberagaman pangan agar kebutuhan energi serta zat gizi terpenuhi.

Artinya, tidak ada keharusan untuk menerapkan pola no-cheat diet secara ekstrem seperti Ronaldo. Sesekali menikmati makanan favorit masih bisa jadi bagian dari pola makan sehat selama tidak berlebihan dan keseluruhan pola makan sehari-hari tetap didominasi oleh makanan bergizi.

Cristiano Ronaldo resmi kembali ke Manchester United. 'Setan Merah' mengumumkan telah menyepakati transfer bintang Portugal itu dengan Juventus.Cristiano Ronaldo saat berseragam Manchester United. Foto: Getty Images

Sisi Positif No-Cheat Diet CR7

No-cheat diet yang dijalankan Ronaldo punya beberapa sisi positif, terutama dalam membantu menjaga kedisiplinan terhadap pola makan dan mengontrol asupan makanan sehari-hari.

Dengan membatasi makanan tinggi gula (no sugar), garam, dan lemak berlebih, pola makan dapat lebih terarah pada pilihan makanan yang kaya zat gizi seperti sayuran, buah, sumber protein berkualitas, dan karbohidrat kompleks. Pola ini dapat membantu menjaga komposisi tubuh, mengatur asupan energi, serta mendukung kesehatan metabolik.

Bagi atlet profesional, pola makan yang sangat terstruktur juga menjadi bagian penting untuk mencapai target performa tertentu. Setiap asupan makanan diperhitungkan agar mampu menunjang latihan, mempercepat pemulihan otot, dan mempertahankan kondisi fisik tetap optimal.

Kedisiplinan seperti Ronaldo juga menunjukkan bahwa pola makan sehat bukan hanya tentang memilih jenis makanan tertentu, tetapi juga tentang konsistensi menjalankan kebiasaan yang mendukung tujuan kesehatan dalam jangka panjang.

No-Cheat Diet Bisa Jadi Bumerang

Di balik manfaatnya, no-cheat diet yang terlalu ketat juga memiliki sisi yang perlu diperhatikan. Aturan makan yang ketat dapat menimbulkan tekanan psikologis, rasa bersalah setelah mengonsumsi makanan tertentu, hingga membuat hubungan dengan makanan menjadi kurang sehat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembatasan makan yang terlalu ketat atau restrained eating dapat meningkatkan risiko kehilangan kontrol saat makan sehingga memicu makan berlebihan ketika aturan tersebut akhirnya dilanggar.

Selain itu, pola makan dengan terlalu ketat juga berpotensi sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Padahal, pola makan sehat bukan hanya tentang berhasil mengikuti aturan selama beberapa minggu atau bulan, melainkan kebiasaan yang dapat dijalani secara konsisten dalam jangka panjang.

Karena itu, penerapan no-cheat diet perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Keseimbangan antara kualitas makanan, fleksibilitas, dan keberlanjutan pola makan menjadi hal yang penting untuk menjaga kesehatan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)
Inspirasi Diet dari Lapangan Bola
8 Konten
Di tengah kemeriahan pesta sepakbola Piala Dunia 2026, ada banyak inspirasi tentang diet dan pola makan yang bisa jadi pelajaran. Para bintang punya resep rahasia menjalankan hidup sehat lewat pilihan menu makan.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads