Mengenal 3 Bakteri Patogen Penyebab Keracunan MBG

Kolom Gizi

Mengenal 3 Bakteri Patogen Penyebab Keracunan MBG

detikHealth
Sabtu, 12 Sep 2026 05:05 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Course, different kinds of Sri Lanka dishes on the restaurant table, rice, vegetable, jack fruit, flat bread, water, soya sauce ready to eat.
Ilustrasi makanan. Foto: Getty Images/iStockphoto/helovi
Jakarta -

Dokumen hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian keracunan MBG yang dialami ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, viral di media sosial baru-baru ini.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sumatra Utara (Labkesda Sumut), Pulo, dalam pernyataan kepada wartawan membenarkan temuan tersebut. Menurutnya, pemeriksaan dilakukan atas permintaan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.

"Bakteri yang kami temukan itu, ya, ada beberapa jenis yaitu Staphylococcus aureus, kemudian juga Bacillus cereus, dan juga Escherichia coli," ujar Pulo dikutip dari detikSumut, Rabu (9/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketiga bakteri tersebut dikenal dapat menyebabkan penyakit akibat pangan dengan mekanisme dan gejala yang berbeda. Ada bakteri yang menghasilkan toksin di dalam makanan, sementara jenis lainnya dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan.

Lantas, seperti apa ketiga bakteri tersebut dan bagaimana bisa menyebabkan keracunan?

ADVERTISEMENT

1. Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang secara alami dapat ditemukan pada kulit dan tangan. Keberadaannya pada tubuh tidak selalu menyebabkan penyakit.

Masalah dapat muncul ketika bakteri tersebut berpindah ke makanan. Tangan yang tidak dicuci dengan baik dan kontak langsung dengan makanan dapat menjadi jalur kontaminasi.

Bakteri ini menjadi perhatian dalam keamanan pangan karena dapat menghasilkan enterotoksin. Toksin tersebut terbentuk ketika bakteri berkembang biak dalam makanan pada kondisi penyimpanan yang mendukung pertumbuhannya.

Bahaya lain dari S. aureus adalah enterotoksin yang dihasilkannya memiliki ketahanan terhadap panas. Proses pemasakan dapat membunuh bakterinya, tetapi toksin yang sudah terbentuk sebelumnya tidak selalu ikut hilang.

Keracunan akibat S. aureus juga memiliki karakteristik yang cukup khas karena gejalanya dapat muncul dengan sangat cepat. Keluhan biasanya mulai dirasakan sekitar 30 menit hingga 8 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Gejalanya dapat berupa mual, muntah hebat, kram perut, dan diare. Keluhan umumnya berlangsung singkat, tetapi muntah dan diare tetap dapat menyebabkan kehilangan cairan.

2. Bacillus cereus

Bacillus cereus merupakan bakteri pembentuk spora yang banyak ditemukan di lingkungan dan dapat mencemari berbagai bahan pangan. Nasi menjadi salah satu makanan yang sering dikaitkan dengan keracunan bakteri ini.

Studi dalam jurnal Tropical Biomedicine tahun 2024 menjelaskan bahwa nasi dapat menjadi media pertumbuhan bakteri ketika terjadi kesalahan dalam penanganan makanan, terutama berkaitan dengan pengaturan suhu selama proses memasak, pendinginan, dan penyimpanan.

Kondisi tersebut membuat B. cereus sering dikaitkan dengan istilah fried rice syndrome. Istilah ini merujuk pada kejadian keracunan yang banyak dikaitkan dengan nasi atau makanan berbasis pati yang telah dibiarkan pada kondisi yang memungkinkan bakteri berkembang.

B. cereus dapat menyebabkan dua bentuk utama penyakit akibat pangan. Bentuk pertama adalah sindrom emetik yang ditandai dengan mual dan muntah, sedangkan bentuk kedua merupakan sindrom diare.

Pada sindrom emetik, B. cereus menghasilkan toksin yang disebut cereulide. Toksin ini terbentuk di dalam makanan dan dapat menyebabkan gejala dengan cepat, sekitar 30 menit hingga 6 jam setelah makanan dikonsumsi.

Sementara itu, sindrom diare memiliki masa inkubasi yang lebih panjang. Gejala biasanya muncul sekitar 6 hingga 15 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Keluhannya dapat berupa diare dan kram perut. Pada sebagian besar kasus, keracunan B. cereus dapat membaik tanpa menimbulkan komplikasi serius, meski muntah dan diare dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan.

Spora bakteri ini memiliki ketahanan terhadap panas, sedangkan toksin cereulide juga dikenal sangat tahan terhadap panas. Karena itu, pemanasan ulang makanan tidak pasti menghilangkan risiko apabila toksin sudah terbentuk sebelumnya.

3. Escherichia coli

Escherichia coli atau E. coli merupakan bakteri yang secara alami dapat hidup di saluran pencernaan manusia dan hewan. Sebagian besar jenis E. coli tidak menyebabkan penyakit.

Ada kelompok tertentu yang bersifat patogen dan dapat menyebabkan penyakit akibat pangan. Salah satunya adalah Shiga toxin-producing Escherichia coli atau STEC.

STEC menghasilkan toksin Shiga yang dapat merusak sel pada saluran pencernaan. Infeksi akibat kelompok bakteri ini dapat menimbulkan penyakit dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan jenis E. coli yang tidak patogen.

Kontaminasi E. coli pada makanan juga dapat berkaitan dengan masalah kebersihan dan sanitasi. Buah dan sayuran yang dikonsumsi tanpa proses pemanasan, misalnya, dapat terkontaminasi melalui air, lingkungan, peralatan, maupun tangan yang tidak bersih.

Gejala infeksi E. coli bergantung pada strain yang menginfeksi. Pada STEC, gejala yang dapat muncul berupa kram perut hebat dan diare yang dapat berkembang menjadi diare berdarah. Mual, muntah, dan demam ringan juga dapat terjadi.

Masa inkubasinya lebih panjang dibandingkan keracunan akibat S. aureus atau bentuk emetik B. cereus. Gejala STEC umumnya mulai muncul sekitar 2 hingga 5 hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Pada kasus berat, terutama pada anak-anak, infeksi STEC dapat berkembang menjadi hemolytic uremic syndrome atau HUS. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah, penurunan trombosit, hingga gangguan fungsi ginjal akut.

Meski demikian, keberadaan E. coli pada sampel makanan tidak otomatis berarti bakteri tersebut merupakan STEC. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui jenis atau strain E. coli yang ditemukan serta karakter patogeniknya.

Penyebab Keracunan Bisa Lebih Kompleks

Temuan tiga bakteri patogen pada sampel makanan di Berastagi menjadi bagian penting dalam investigasi kejadian keracunan. Namun, hasil tersebut belum tentu menjelaskan seluruh penyebab siswa mengalami keracunan.

Penyakit akibat pangan dapat disebabkan oleh banyak agen. Selain bakteri seperti S. aureus, B. cereus, dan E. coli, terdapat bakteri patogen lain yang juga dapat mencemari makanan.

Penyebabnya dapat berasal dari virus, parasit, maupun toksin yang sudah terbentuk di dalam makanan. Keracunan juga dapat berkaitan dengan toksin alami pada bahan pangan, histamin, maupun kontaminan kimia seperti nitrit.

Hal tersebut penting diperhatikan karena hasil laboratorium yang tersedia hanya menunjukkan pemeriksaan terhadap sejumlah parameter bakteri. Dari hasil yang ditunjukkan, terdapat empat jenis bakteri yang diperiksa sehingga masih terdapat kemungkinan agen penyebab lain yang berada di luar parameter pemeriksaan tersebut.

Investigasi kejadian keracunan makanan karena itu perlu melihat banyak aspek secara bersamaan. Jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah siswa yang mengalami gejala, waktu konsumsi, waktu munculnya keluhan, pola gejala, proses pengolahan, hingga kondisi penyimpanan makanan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video Ratusan Santri Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Emil: Tak Ada yang Meninggal"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads