Insiden Cepirit Hebohkan Hyrox Beijing, 'Salah Makan' Bisa Jadi Pemicu?

Kolom Gizi

Insiden Cepirit Hebohkan Hyrox Beijing, 'Salah Makan' Bisa Jadi Pemicu?

detikHealth
Rabu, 16 Sep 2026 08:09 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Copy space shot of an attractive young woman exercising on rowing machine in the gym. She is keeping her performance on rowing machine display.
Rowing. Foto: Getty Images/fotostorm
Jakarta -

Kejadian tak mengenakkan dialami atlet HYROX Joanna Wietrzyk saat berlaga di HYROX Beijing. Atlet asal Australia itu dikabarkan mengalami 'cepirit' atau inkontinensia tinja saat mengikuti perlombaan.

Joanna tetap melanjutkan pertandingan hingga finis dan keluar sebagai pemenang. Kejadian tersebut kemudian viral dan memicu kontroversi karena insiden terjadi di tengah arena pertandingan.

Kondisi seperti yang dialami Joanna dapat berkaitan dengan gangguan saluran cerna saat olahraga intensitas tinggi. Keluhannya bisa berupa kram perut, mual, diare, dorongan buang air besar secara tiba-tiba hingga inkontinensia tinja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apakah makanan yang dikonsumsi sebelum olahraga dapat ikut meningkatkan risiko mengalami kondisi tersebut?

ADVERTISEMENT
@detikhealth_official Atlet diare race tetap jalan, tapi kenapa meludah bisa kena penalti? Di HYROX, meludah atau mengeluarkan kotoran/lendir dari hidung ke lantai race ternyata dilarang. Tapi, kenapa aturan soal meludah dibuat begitu ketat? 🤔 Yuk, bedah faktanya di Unjuk Gigi! 🦷 Creator: Nima #unjukgigi#tipskesehatan#kesehatangigi#detikHealth ♬ original sound - detikHealth



Olahraga Intensitas Tinggi Bisa Mengganggu Pencernaan

Saat melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, tubuh membutuhkan lebih banyak aliran darah menuju otot yang sedang bekerja. Kondisi tersebut membuat aliran darah ke organ lain, termasuk saluran pencernaan, dapat berkurang.

Hal ini juga dapat terjadi pada olahraga seperti HYROX yang menggabungkan aktivitas lari dengan berbagai latihan kekuatan dalam intensitas tinggi.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dr Aru Ariadno, SPPD-KGEH, menjelaskan aktivitas fisik yang sangat berat memang dapat memicu masalah pencernaan.

"Aktivitas fisik yang berat dan berintensitas sangat tinggi dapat memicu masalah pencernaan. Akibat aktivitas ini aliran darah tubuh akan dialihkan dari organ tubuh lainnya menuju ke otot yang bekerja keras," kata dr Aru dikutip dari detikcom.

Selain perubahan aliran darah, gerakan tubuh yang intens dan guncangan ketika berlari juga dapat memengaruhi saluran pencernaan. Makanan yang masih berada dalam saluran cerna ketika olahraga dimulai dapat semakin memperbesar rasa tidak nyaman.

Sejalan dengan studi dalam jurnal Sports Medicine tahun 2025 menjelaskan olahraga dapat mengganggu fungsi dan integritas saluran cerna serta memunculkan berbagai gejala gastrointestinal yang berkaitan dengan olahraga.

Keluhannya dapat berupa mual, kram, kembung, diare hingga dorongan buang air besar yang sulit ditahan.

Hindari Makanan Tinggi Serat Menjelang Olahraga

Makanan tinggi serat tetap penting untuk kesehatan dan kebutuhan gizi sehari-hari. Namun, konsumsinya perlu diperhatikan ketika waktunya berdekatan dengan olahraga intensitas tinggi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menyarankan menghindari makanan tinggi serat sekitar 2 sampai 4 jam sebelum olahraga.

"Sebaiknya 2 sampai 4 jam sebelum olahraga hindari makanan yang tinggi serat, misalnya sayuran mentah atau salad, kacang-kacangan, biji-bijian, oatmeal atau buah dengan kulit," kata dr Yaze saat dihubungi detikcom, Senin (14/9/2026).

Serat dapat memperlambat pengosongan lambung dan menambah volume feses di dalam usus besar. Ketika tubuh kemudian banyak bergerak dan mengalami guncangan, kondisi tersebut dapat memicu dorongan buang air besar secara mendadak.

Hal ini bukan berarti sayuran, buah atau makanan tinggi serat perlu dihindari dari pola makan. Asupan tersebut tetap diperlukan, tetapi waktu konsumsinya perlu disesuaikan dengan jadwal olahraga.

Hindari Makanan Berlemak

Gorengan, makanan bersantan pekat, fast food, serta makanan tinggi lemak sebaiknya tidak menjadi pilihan utama menjelang olahraga intensitas tinggi.

Makanan tinggi lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Ketika makanan masih berada di saluran pencernaan sementara tubuh mulai melakukan aktivitas berat, kondisi tersebut dapat meningkatkan rasa penuh, mual, kembung atau ketidaknyamanan perut.

Penelitian dalam jurnal Journal of the International Society of Sports Nutrition tahun 2025 juga menempatkan asupan lemak sebagai salah satu faktor nutrisi yang dapat memengaruhi munculnya gejala gastrointestinal selama olahraga intensitas tinggi.

Hal ini sejalan dengan penjelasan dr Yaze yang menyarankan untuk menghindari makanan tinggi lemak, santan maupun gorengan sebelum olahraga intensitas tinggi.

"Makanan yang tinggi lemak, santan atau gorengan, misalnya daging berlemak, gorengan, fast food, keju olahan atau makanan bersantan," kata dr Yaze.

Menurutnya, makanan yang membutuhkan waktu lama untuk dicerna dapat tetap berada di lambung atau usus ketika seseorang mulai berolahraga. Sementara itu, aliran darah ke saluran pencernaan mengalami keterbatasan karena tubuh memprioritaskan otot yang sedang digunakan.

"Makanan yang ketahan lama di lambung atau usus saat aliran darah berkurang bisa memicu mual, kram, sampai diare karena pencernaan yang belum sempurna," jelasnya.

Karena itu, makanan berlemak sebaiknya diberi jarak cukup jauh dari waktu olahraga, terutama ketika aktivitas yang akan dilakukan memiliki intensitas tinggi dan banyak melibatkan gerakan tubuh.

Hindari Makanan Pedas

Makanan pedas juga perlu diperhatikan, terutama bagi yang sudah mengetahui bahwa makanan tersebut mudah memicu masalah pencernaan.

Capsaicin yang terdapat dalam cabai dapat memengaruhi saluran pencernaan. Pada sebagian orang, makanan pedas dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, mulas hingga perubahan pola buang air besar.

"Makanan pedas juga dihindari, karena capsaicin di cabe bisa mengiritasi dinding lambung dan usus jadi mempercepat transit usus yang bisa meningkatkan risiko diare atau rasa mules," kata dr Yaze.

Respons terhadap makanan pedas tentu berbeda pada setiap orang. Atlet yang sudah mengetahui makanan pedas mudah memicu keluhan sebaiknya tidak mengonsumsinya menjelang latihan berat atau pertandingan.

Waspadai Produk Susu

Susu dan produk olahannya juga perlu diperhatikan, terutama pada individu dengan intoleransi laktosa.

Intoleransi laktosa dapat menyebabkan konsumsi produk susu memicu gas, kembung hingga diare. Keluhan tersebut tentu bisa menjadi persoalan ketika muncul saat sedang berolahraga.

"Produk olahan susu juga, apalagi orang dengan intoleransi laktosa. Karena beberapa orang, aktivitas fisik intensif bisa mengeksaserbasi sensitivitas laktosa, memicu gas berlebih, perut jadi kembung, sampai diare yang susah ditahan," jelas dr Yaze.

Karena itu, produk susu yang sudah diketahui memicu gangguan pencernaan sebaiknya tidak dikonsumsi menjelang olahraga intensitas tinggi.

Hati-hati dengan Pemanis Tertentu

Produk rendah gula atau bebas gula juga perlu diperhatikan. Beberapa jenis pemanis seperti sorbitol dan manitol dapat memicu keluhan gastrointestinal pada individu yang sensitif.

Pemanis tertentu dapat menarik air ke dalam usus sehingga membuat feses lebih cair.

"Pemanis buatan, karena menarik air ke usus besar secara osmosis, akhirnya feses jadi cair dan memicu rasa pengen BAB," ujarnya.

Karena itu, permen bebas gula, permen karet atau produk lain yang mengandung pemanis tersebut sebaiknya tidak dicoba pertama kali menjelang pertandingan.

Kafein dan Minuman Berkarbonasi Juga Perlu Diperhatikan

Kopi dan minuman berkafein juga dapat menjadi pemicu buang air besar pada sebagian orang.

Minuman berkarbonasi pun dapat menimbulkan masalah karena gas yang terkandung di dalamnya dapat membuat perut terasa penuh dan kembung.

"Kafein juga. Sama minuman yang berkarbonasi. Karena merangsang motilitas usus besar secara spontan, dan sodanya memicu penumpukan gas," kata dr Yaze.

Bagi yang sudah mengetahui bahwa kopi atau minuman berkafein membuat lebih cepat buang air besar, konsumsinya menjelang olahraga perlu diperhitungkan.

Jangan Coba Makanan Baru

Persiapan makan sebelum pertandingan sebaiknya dilakukan berdasarkan makanan yang sudah diketahui cocok dengan tubuh.

Hal ini menjadi penting terutama untuk olahraga dengan intensitas tinggi seperti HYROX, lari jarak jauh, triathlon atau olahraga endurance lainnya.

Penelitian dalam jurnal Journal of the International Society of Sports Nutrition tahun 2025 membahas berbagai strategi nutrisi untuk meminimalkan gejala gastrointestinal selama olahraga endurance. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi nutrisi perlu disesuaikan dengan karakteristik dan toleransi masing-masing atlet.

dr Yaze juga menegaskan, pilihan makanan yang sudah biasa dikonsumsi dapat membantu menjaga pencernaan tetap nyaman selama olahraga.

"Pilih makanan yang udah biasa dikonsumsi, supaya aman buat pencernaan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 4
(mal/up)
Insiden Cepirit Atlet Elit
6 Konten
Tak sengaja BAB di tengah olahraga intensitas tinggi bukan 1-2 kali terjadi. Di Hyrox Beijing, urusannya jadi panjang karena kabarnya dialami atlet elit yang bahkan jadi potensial winner di ajang tersebut. Kok bisa nggak disetop, higiene apa kabar?

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads