Belakangan ini gaduh mengenai beras fortifikasi abal abal. Pemerintah menemukan sejumlah produk yang mengklaim sebagai beras fortifikasi, tetapi kandungan zat gizinya disebut tidak sesuai dengan informasi yang tercantum pada kemasan.
Temuan tersebut membuat istilah beras fortifikasi semakin ramai diperbincangkan. Jenis beras ini sudah memiliki standar khusus yang mengatur kandungan gizi hingga mutunya.
Sekilas, beras fortifikasi terlihat seperti beras pada umumnya dan sama sama diolah menjadi nasi. Perbedaannya ada pada tambahan vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya. Apa saja zat gizi yang ditambahkan dan bagaimana membedakannya dengan beras biasa?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beras Biasa vs Beras Fortifikasi
Secara umum, beras biasa dan beras fortifikasi sama-sama berasal dari beras yang menjadi bahan pangan pokok. Perbedaan utamanya terletak pada kandungan zat gizi tambahan.
Beras biasa memiliki kandungan zat gizi yang berasal dari beras itu sendiri. Kandungannya dipengaruhi oleh jenis beras serta proses penggilingan dan pengolahan yang dilakukan.
Sementara itu, beras fortifikasi mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses fortifikasi.
Pada proses tersebut, beras dicampurkan dengan kernel beras fortifikan. Bentuk kernel dibuat menyerupai butiran beras dan telah diperkaya dengan vitamin serta mineral.
Kernel tersebut kemudian dicampurkan dengan beras sosoh dengan proporsi tertentu. Proses pencampuran dilakukan secara merata agar zat gizi tambahan dapat tersebar dalam produk.
Dengan demikian, perbedaan utama keduanya bukan terletak pada bentuk nasi setelah dimasak, melainkan pada adanya tambahan vitamin dan mineral yang telah ditetapkan dalam standar beras fortifikasi.
Zat Gizi Tambahan dalam Beras Fortifikasi
Tambahan zat gizi menjadi salah satu pembeda utama beras fortifikasi.
Berdasarkan SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi, terdapat persyaratan kandungan zat gizi yang meliputi vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi dan seng.
Dalam setiap 100 gram beras fortifikasi, vitamin B1 ditetapkan minimal 0,25 mg. Asam folat berada pada kisaran 0,25 hingga 0,38 mg, vitamin B12 sebesar 1 hingga 1,5 mcg, zat besi 3,50 hingga 5,25 mg dan seng 3 hingga 4,5 mg.
Seberapa Penting Tambahan Zat Gizi pada Beras?
Tambahan vitamin dan mineral pada beras fortifikasi ditujukan untuk membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro melalui pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Fortifikasi dapat menjadi salah satu strategi untuk membantu menekan risiko kekurangan zat gizi mikro. Beras dipilih sebagai salah satu media fortifikasi karena merupakan pangan pokok yang dikonsumsi secara luas.
Ketika zat gizi ditambahkan ke dalam pangan pokok, manfaat fortifikasi dapat menjangkau lebih banyak konsumen melalui makanan yang sudah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.
Zat besi, misalnya, diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat besi dapat mengganggu proses pembentukan hemoglobin dan meningkatkan risiko anemia defisiensi besi.
Asam folat dibutuhkan dalam proses pembentukan dan pembelahan sel. Vitamin B12 juga berperan dalam pembentukan sel darah merah serta fungsi sistem saraf.
Vitamin B1 membantu metabolisme energi, sedangkan seng diperlukan dalam berbagai proses biologis, termasuk pertumbuhan dan fungsi sistem imun.
Meski begitu, beras fortifikasi tetap bukan satu-satunya sumber vitamin dan mineral. Kebutuhan zat gizi perlu dipenuhi melalui pola makan yang beragam dengan mengonsumsi sumber protein, sayur, buah, kacang-kacangan dan berbagai kelompok pangan lainnya.
Beras Fortifikasi Punya Standar Mutu dan Gizi
Beras yang disebut sebagai beras fortifikasi tidak hanya harus memiliki tambahan vitamin dan mineral.
Berdasarkan SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi, terdapat persyaratan mutu dan persyaratan zat gizi yang harus dipenuhi.
Warna normal, tekstur normal, aroma normal, kadar air maksimal 14% hingga tingkat homogenitas maksimal 15% adalah persyaratan mutu yang harus dipenuhi. Sementara itu, persyaratan zat gizi mengatur kandungan minimal vitamin dan mineral yang menjadi bagian dari fortifikasi.
Indonesia juga memiliki SNI 9314:2024 tentang Kernel Beras Fortifikan yang mengatur kernel yang digunakan dalam proses fortifikasi.
Artinya, beras fortifikasi bukan sekadar beras yang diberi tambahan vitamin kemudian dipasarkan dengan label "fortifikasi". Produk tersebut harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Beras fortifikasi memiliki nilai tambah berupa tambahan vitamin dan mineral yang ditujukan untuk membantu meningkatkan asupan mikronutrien dan menekan risiko kekurangan zat gizi mikro.
Namun, beras biasa juga tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang. Tidak adanya tambahan vitamin dan mineral melalui proses fortifikasi tidak serta-merta membuat beras biasa menjadi pangan yang tidak sehat.
Pilihan beras fortifikasi dapat menjadi salah satu cara mendapatkan tambahan vitamin dan mineral melalui pangan pokok. Manfaatnya tetap perlu dilihat sebagai bagian dari keseluruhan pola makan.
Hal yang penting adalah memastikan produk yang disebut sebagai beras fortifikasi memenuhi standar yang berlaku dan memiliki kandungan gizi sesuai dengan informasi pada kemasan.
Perbedaan beras biasa dan beras fortifikasi terletak pada tambahan zat gizi dan standar yang menyertainya. Beras fortifikasi dirancang untuk memberikan tambahan vitamin dan mineral tertentu.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)










































