Awas Jebakan 'Less Sugar', Dikurangi Juga Percuma kalau Normalnya Sudah Kemanisan

World Food Day

Awas Jebakan 'Less Sugar', Dikurangi Juga Percuma kalau Normalnya Sudah Kemanisan

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Kamis, 15 Okt 2026 22:16 WIB
media gathering World Food Day 2026 yang diadakan oleh Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH), Kamis (15/10/2026).
Foto: Aura/detikHealth
Jakarta -

Bagi kebanyakan Gen Z dan milenial, memesan minuman manis viral seperti boba, milk tea, atau kopi susu dengan opsi less sugar sering dijadikan "kompromi" agar tidak merasa bersalah mengonsumsi asupan gula berlebih.

Rasa-rasanya, memotong porsi gula cair sudah cukup untuk membuat minuman favorit jadi lebih aman dan rendah kalori.

Namun, tanyakan lagi kepada diri sendiri. Yakin minuman less sugar itu benar-benar rendah gula dan aman dari tumpukan kalori?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter Spesialis Gizi Klinik, Dr dr Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K) mengungkap, adanya jebakan persepsi di balik pesanan minuman less sugar, terutama jika minuman tersebut masih sarat dengan berbagai jenis topping.

ADVERTISEMENT

Gula Tersembunyi di Balik Boba hingga Susu Evaporasi

Banyak dari kita yang fokus menakar sendok gula cair dari barista, tapi abai terhadap kandungan bahan pendamping di dalam gelas.

Padahal, topping populer seperti boba, grass jelly, hingga penggunaan susu evaporasi menyimpan kandungan karbohidrat dan gula tersembunyi yang jumlahnya tak sedikit.

dr Diana menegaskan, opsi less sugar tidak serta-merta membuat minuman otomatis menjadi pilihan yang sepenuhnya aman.

"Jadi, kita bicara, kalau produk kita beli, kita less sugar, maka kemudian menjadi lebih aman. Tadi yang saya bilang, kurangi setengahnya, yang sekalian saja, kalau kita mau, tidak ada sugar, ya tidak ada sugar," ucapnya ketika ditemui dalam media gathering World Food Day 2026 yang diadakan oleh Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH), Kamis (15/10/2026).

Takaran Less Sugar Antar-Gerai yang Berbeda-beda

Tak hanya masalah topping, "jebakan" lain terletak pada definisi "less sugar" itu sendiri. Setiap kedai atau gerai minuman kekinian memiliki takaran standar yang berbeda-beda.

Pengurangan 30 persen atau 50 persen gula di satu gerai bisa jadi masih jauh lebih manis dibandingkan takaran normal di gerai lainnya.

"Evaluasi terhadap suatu produk perlu mempertimbangkan keseluruhan komposisi, nilai gizi, porsi konsumsi, serta perannya dalam pola makan sehari-hari," tutup dr Diana.

Sebagai penutup, dr Diana mengimbau, untuk meningkatkan literasi pangan dengan membiasakan diri membaca daftar komposisi dan tabel informasi nilai gizi secara menyeluruh sebelum membeli produk pangan.

Dengan memahami fungsi serta porsi konsumsi, konsumen dapat membuat keputusan pangan yang tepat demi menjaga kesehatan jangka panjang.

Halaman 2 dari 2
(aur/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads