Penurunan berat badan drastis di awal program diet sering kali mendatangkan rasa puas. Tetapi, tak sedikit orang yang mendadak cemas saat angka timbangan mulai melambat atau tampak 'stuck' di bulan-bulan berikutnya.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menegaskan bahwa fase penurunan berat badan yang melambat ini merupakan kondisi normal dan bukan tanda bahwa program diet telah gagal.
"Memang biasanya di awal-awal itu berat badannya cepat turun, misalnya di bulan pertama sampai bulan ke-3 itu bisa turun 5 sampai 8 kg. Nanti di bulan ke-4, ke-5, ke-6 itu bisa turun cuma 1 sampai 2 kg," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (15/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sebenarnya normal terjadi, jadi enggak perlu langsung kamu cut extreme lagi tuh makanannya," lanjutnya.
dr Yaze membeberkan bahwa penurunan drastis pada fase awal diet sebenarnya bukan didominasi oleh pembakaran lemak tubuh, melainkan susutnya cairan dan cadangan karbohidrat alias glikogen.
"Itu biasanya terjadi karena yang awal pertama kali defisit kalori, yang terbakar atau yang mulai turun adalah air sama glikogen. Glikogen ini adalah 'gudang' untuk penyimpanan karbohidrat, biasanya dia ada di otot atau di hati," terangnya.
Glikogen Mengikat Air
Mekanisme ikatan molekul glikogen inilah yang membuat angka timbangan merosot sangat cepat pada minggu-minggu awal defisit kalori.
"Dalam 1 gram glikogen itu memang mengandung atau mengikat air sekitar 3-4 gram. Jadi begitu glikogennya habis, pasti airnya akan ikutan turun. Makanya berat badan cepat banget turunnya. Jadi enggak murni bener-bener si lemak yang dibakar langsung di awal diet," papar dr Yaze.
Proses pembakaran lemak tubuh yang sesungguhnya justru baru bekerja secara bertahap setelah kadar glikogen dan cairan tubuh mulai stabil.
"Tapi begitu sudah di bulan berikutnya, barulah si glikogen sudah mulai sedikit, air sudah mulai berkurang, baru akhirnya lemak mulai dibakar. Di situlah kenapa berkurangnya cuma 1 sampai 2 kg per bulan," kata dr Yaze.
"Jadi itu sebenarnya normal, bukan stuck, bukan gagal. Dan itu tetap harus dilanjutin tuh lifestyle sehatnya," tuturnya.










































