Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, atau yang akrab disapa dr Yaze, menegaskan bahwa anggapan tersebut keliru. Menurutnya, mengonsumsi telur yang belum matang sempurna bukan berarti membuat tubuh lebih sehat. Sebaliknya, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan sekaligus membuat penyerapan protein kurang optimal.
"Iya nih telur mentah, bahkan ada juga yang suka makan telur setengah mateng. Jadi sebenarnya, telur tuh yang kita takutin kalau misalnya dia mentah ada bakteri Salmonella. Jadi akhirnya malah menimbulkan banyak masalah, misalnya kram perut hingga jadi diare," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (22/10/2026).
dr Yaze menjelaskan selain ancaman infeksi bakteri, tingkat penyerapan protein dari telur setengah matang maupun mentah justru merosot drastis, dibandingkan dengan telur yang sudah dimasak matang sempurna.
"Terus telur yang belum mateng, mau dia mentah atau setengah mateng, sebenarnya proteinnya itu diserap sama tubuh cuma sedikit, cuma 50 persen. Sementara kalau yang dia udah mateng itu bisa sampai 90 persen terserap proteinnya," terangnya.
Asupan Protein Jadi Mubazir
Guna memberikan gambaran, dr Yaze merincikan hitungan susutan nutrisi saat seseorang nekat menyantap telur setengah matang demi mengejar asupan protein harian.
Dalam satu butir telur ayam utuh yang dimasak matang, umumnya mengandung sekitar 7 gram protein berkualitas tinggi. Namun, angka penyerapan tersebut bakal rugi besar jika telur dikonsumsi dalam keadaan belum matang.
"Misalnya satu telur itu kalau dia mateng itu dia punya 7 gram protein, jadi kalau misalnya cuma terserap 50 persen kayak terlalu sia-sia ya. Sudah makan protein yang kita sebenarnya pengen dapet protein dari telur, malah kita cuma dapet setengahnya," pungkas dr Yaze.
Simak Video "Video WHO soal Risiko Kesehatan Global Terkait Penyakit Misterius Kongo: Rendah"
(sao/suc)