Kamis, 06 Agu 2015 12:31 WIB

Pekan ASI Sedunia

Berbekal 'Keras Kepala', Ibu Ini Sukses Berikan ASI Eksklusif

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Kesannya sepele, tapi tidak selalu mudah. Ya, terkadang butuh perjuangan yang cukup keras. Bahkan kerap kali dibutuhkan sikap keras kepala agar tetap bisa memberikan air susu ibu (ASI) sebagai hak si kecil.

Itu pula yang dialami salah satu pembaca detikHealth dalam surat elektroniknya. Sebut saja namanya Fefi. 3,5 tahun lalu, Fefi melahirkan bayi laki-laki dengan bobot 3 kg dan panjang 50 cm. Bayi lucu itu lantas diberi nama Zulfikar.

Proses inisiasi menyusui dini dilakukan setelah persalinan. Namun betapa terkejut Fefi ketika suster membawa si kecil dan mengatakan akan mengantar bayi itu esok pagi setelah pemberian susu formula 2-3 kali dan menunggu visit dokter.

"Sedih saya, tapi nggak nyerah saya bilang kalau anak saya jangan diberikan asupan apa-apa dulu, minimal sampai besok pagi kalau memang tidak boleh saya berikan ASI pada malam itu. Karena dari banyak artikel yang saya baca dan pelajari bahwa bayi kuat tidak minum sejak proses kelahirannya selama maksimal 72 jam," papar Fefi dan ditulis pada Kamis (6/8/2015).

Baca juga: Perjuangan Rita Berikan ASI Eksklusif pada Bayinya yang Lahir Prematur

Namun Fefi tidak perlu menunggu sampai pagi. Pada pukul 01.00 dini hari, si bayi diantarkan ke kamarnya untuk disusui. Meskipun puting payudaranya kecil, Fefi dengan penuh percaya diri memberikan ASI kepada si kecil.

"Sebulan kemudian, gangguan-gangguan mulai berdatangan perihal ASI yang saya berikan. Mulai dari suami yang saat itu menyarankan saya untuk memberikan tambahan susu formula agar Zulfi cepat besar," ucap Fefi.

Ini dikarenakan teman-teman sampai tetangga-tetangga yang memberikan susu formula. Meskipun bayi-bayi seusia Zulfi terlihat besar, tapi semangat Fefi untuk memberikan asi eksklusif pada Zulfi tidak ciut. Dia masih yakin, ASI dari kedua payudaranya bermanfaat dan berfungsi sangat baik.

"Setiap habis diimunisasi, Zulfi selalu demam dan rewel. Obat dari bidan nggak pernah saya kasihkan, saya booster dengan ASI saja dan berjemur pada pagi hari, hanya itu," ucap Fefi.

Baca juga: Puting Kecil Bikin Ibu Tak Bisa Menyusui? Bisa Kok, Ini Buktinya

Demi tumbuh kembang si kecil yang optimal, Fefi juga rajin membaca artikel di internet. Tak cuma itu, dia pun banyak melakukan diskusi interaktif dengan dokter-dokter online di Twitter. Diskusi dan konsultasi dengan konselor laktasi juga dilakoninya.

Karena banyak diskusi dan membaca, Fefi semakin yakin bahwa anaknya tidak perlu sedikit-sedikit dibawa ke dokter jika mengalami sakit ringan. Fefi masih tetap meyakini, ASI memiliki kandungan 'ajaib' yang mampu mengusir virus penyebab batuk pilek anaknya.

6 Bulan terlewati, di mana Zulfi hanya minum ASI saja. Ketika anaknya berumur 12 bulan, Fefi masih terus memberikan ASI untuk Zulfi. Dia bertekad ASI akan terus diberikan hingga usia anaknya 2 tahun.

Ternyata modal keras kepalanya untuk memberikan ASI terasa benar manfaatnya. Fefi merasa anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Tak cuma itu, Fefi merasakan ikatan yang begitu erat dengan anaknya.

"Asik menikmati polah dia ketika ng-ASI sambil nungging, gigit, duduk, tengkurap dan itu nikmat sekali," imbuh Fefi yang kini rajin memberi masukan tentang pentingnya ASI kepada teman-temannya.

Bunda, yuk share pengalaman menyusui dan ruangan laktasi kantor Anda melalui media sosial detikHealth dengan hashtag #AyofasilitASI . Bisa di Facebook: https://www.facebook.com/detikHealth atau di Twitter: @detikHealth atau melalui Instagram: detikhealth_official Ada suvenir menarik bagi yang beruntung lho.

(vit/ajg)
News Feed