Rabu, 01 Mar 2017 17:29 WIB

Mengapa Daun Katuk Diyakini Bisa Lancarkan ASI?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Setelah melahirkan, ibu-ibu biasanya disarankan untuk mengonsumsi daun katuk (Sauropus androgynus) agar air susu ibu (ASI) lancar. Karena diyakini bisa membuat ASI deras, sejak dulu para ibu menyusui mengonsumsinya dengan cara merebus untuk diambil sarinya ataupun dengan menjadikannya sebagai lalapan.

Mengutip sejumlah literatur, ahli herba dr Abrijanto SB, MSi menerangkan daun katuk mengandung sejumlah nutrisi penting seperti protein, vitamin D, vitamin C, kalsium, hingga asam folat. Selain itu daun katuk juga mengandung sejumlah senyawa kelompok asam lemak yang bisa merangsang kelenjar mamae untuk meningkatkan produksi air susu.

"Kandungan di daun katuk bisa meningkatkan progesteron untuk menstimulasi prostaglandin sehingga memicu produksi ASI lebih banyak," kata dr Abri dalam diskusi tentang Herbana, brand suplemen herbal terbaru dari PT Deltomed Laboratories, baru-baru ini.

Dari penelitian, sambung dokter berkacamata ini, diketahui pemberian ekstrak daun katuk pada kelompok ibu melahirkan dan menyusui bayinya dengan dosis 3 x 300mg/hari selama 15 hari terus-menerus mulai hari ke-2 atau hari ke-3 setelah melahirkan, dapat meningkatkan produksi ASI. Ibu yang mengonsumsi ekstrak daun katuk ternyata memproduksi ASI 50,7 persen lebih banyak dibandingkan ibu yang tidak diberi ekstrak daun katuk.

Mengapa Daun Katuk Diyakini Bisa Lancarkan ASI?Foto: Thinkstock
Penelitian lainnya dilakukan pada kelinci. Penambahan 2 persen tepung daun katuk dalam pakan kelinci berdampak pada produksi susu induk dan pertambahan berat badan anak kelinci yang lebih baik ketimbang kelinci yang tidak diberi tepung daun katuk.

Baca juga: Jangan Menyerah Wahai Ibu Bekerja, Bosan Memerah ASI Bisa Diatasi Kok

"Peningkatan produksi susu induk kelinci ini disebabkan oleh tingginya kandungan sterol pada daun katuk. Subekti (2007) menemukan bahwa kandungan sterol daun katuk ekstrak etanol 70 persen mencapai 2,43 g/100 g atau 2.433,4 mg/100 g," papar dr Abri.

Ditambahkan dr Abri, sterol pada daun katuk akan masuk dalam tubuh saat dikonsumsi oleh kelinci dan akan mengalir dalam darah hingga dapat merangsang produksi estrogen dalam tubuh. Nah, sterol dalam darah akan menjadi prekursor prostaglandin dan hormon steroid (glukokortikoid, progesteron, estradiol).

"Hormon ini bekerja langsung pada sel-sel sekretori kelenjar ambing dengan meningkatkan jumlah dan aktivitas sintetisnya," lanjutnya.

"Manusia zaman dahulu itu hebat ya. Sudah tahu manfaat dari tanaman-tanaman. Kita sekarang yang meneliti apa kandungannya, dan ternyata memang benar," imbuh dr Abri.

dr Abri dan Jesslyndr Abri dan Jesslyn Foto: Nurvita Indarini
Untuk bisa merasakan peningkatan produksi ASI, menurut dr Abri, seorang ibu perlu mengonsumsi daun katuk dalam jumlah banyak. Jika jumlahnya hanya sedikit, misalnya dikonsumsi dalam bentuk sayur bening daun katuk saja, maka yang lebih banyak didapat adalah pasokan serat untuk tubuh saja.

Baca juga: Malas Perah ASI di Kantor? Hati-hati Produksinya Bisa Turun

Product Manager Herbana, Jesslyn Angelia, dalam kesempatan yang sama menuturkan selain mengonsumsi suplemen kesehatan, hendaknya juga melakukan gaya hidup sehat. Termasuk juga bagi ibu menyusui, harus rajin-rajin memberikan ASI kepada si kecil, baik menyusui secara langsung atau memerah ASI jika sedang berjauhan dari anaknya, meski sudah mengonsumsi ekstrak daun katuk.

"Suplemen saja tidak cukup. Lifestyle juga harus sehat. Menjaga kesehatan itu perlu dilakukan secara holistik," pesannya. (vit/ajg)