Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Dr dr Yogi Prawira, Sp A, Subsp. ETIA(K), mengatakan salah satu petunjuk yang paling kuat adalah ketika beberapa orang mengalami keluhan serupa setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang sama.
kriteria anak keracunan makanan Foto: Suci Risanti Rahmadania/detikHealth |
Kecurigaan juga dapat diperkuat dengan melihat makanan yang dikonsumsi, kondisi lingkungan, riwayat perjalanan, hingga jarak waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala. Hal tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menelusuri kemungkinan sumber dan penyebab penyakit.
Menurut dr Yogi, sejumlah paparan memang memiliki risiko lebih tinggi menyebabkan penyakit bawaan makanan. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan riwayat konsumsi anak, terutama jika sebelumnya mengonsumsi makanan yang kurang matang atau berasal dari sumber yang berisiko.
Selain itu, waktu munculnya gejala juga menjadi bagian penting dalam penelusuran. Setiap patogen memiliki masa inkubasi yang berbeda, sehingga hubungan antara makanan yang dikonsumsi dan munculnya keluhan perlu dilihat berdasarkan jeda waktunya.
Meski demikian, dugaan keracunan makanan sebaiknya tidak menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan ketika anak menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Terlebih jika anak mengalami muntah atau diare terus-menerus, tanda dehidrasi, BAB berdarah, demam tinggi, kejang, sulit dibangunkan, atau tampak lemas.
(suc/suc)











































