Kamis, 15 Nov 2018 07:10 WIB

Tips Olahraga bagi Pekerja Kantoran: Jangan Begadang!

Ayunda Septiani - detikHealth
Ilustrasi pekerja kantor olahraga. Foto: Thinkstock Ilustrasi pekerja kantor olahraga. Foto: Thinkstock
Jakarta - Pekerja kantoran sering kekurangan waktu untuk menyempatkan berolahraga. Apalagi jika harus begadang, buyar sudah semua rencana olahraga pagi ataupun sore karena kurang tidur sehingga tubuh tidak fit.

Pelatih marathon Andri Yanto mengatakan bahwa tubuh memerlukan dua hari untuk pulih dari begadang. Maka dari itu, baik pekerja kantoran maupun tidak harus sadar bahwa tidur itu sangat penting, karena tidak ada aktivitas lain yang mampu menggantikan manfaat dan fungsi dari tidur yang sangat vital bagi perkembangan tubuh manusia.

"Kalau tidak terpaksa, janganlah begadang. Semuanya sebenarnya bisa kita atur, cuma seringnya kita kalau malam itu sibuk dengan gadget, sibuk dengan nonton televisi, gitu ya," ujarnya saat diwawancarai detikHealth, Rabu (14/11/2018).

Jika benar-benar terpaksa untuk begadang, Andri menyarankan untuk mengubah olahraga pagi menjadi sore, misalnya pada pukul 4 atau 5. Olahraga bisa dilakukan dengan olahraga apa saja, selama 30-60 menit sudah cukup. Lakukan seminggu tiga kali untuk menjaga kebugaran dan kesehatan.



Idealnya memang berolahraga pada pagi hari, lanjutnya. Karena secara biologis pagi hari adalah waktunya beraktivitas, sedangkan malam hari untuk beristirahat. Jika memang tak mampu berolahraga di pagi maupun sore hari, buatlah keanggotan di pusat kebugaran agar bisa menyempatkan berolahraga di siang hari saat waktu makan siang.

"Lebih baik daripada tidak ada aktivitas fisik. Cuma kan persoalannya kalau olahraganya terlalu larut, maka tidurnya terlalu larut juga. Sebenarnya ini cuma persoalan manajemen waktu. Saya melatih pelari tuh dari ibu rumah tangga sampai pemilik grup perusahaan, mereka punya waktu lho," katanya.

Dan juga tiap orang memiliki kemampuan tubuh yang berbeda, sehingga jika ingin berolahraga maka lakukan secara bertahap. Andri menyebut kuncinya cuma dua sabar dan konsisten.

Andri mencontohkan dirinya. Sebelum jadi pelatih marathon, ia bukanlah seorang atlet namun justru berprofesi sebagai wartawan. Pertama kali ia berlari hanya mampu sejauh 150 meter. Namun dengan giat berlatih apalagi kecintaannya pada olahraga lari, kini ia mampu berlari hingga 15-20 km bahkan dalam seminggu ia mampu berlari hingga 40 km.

"Hanya untuk menjaga kebugaran saya, karena saya juga hobi. Pada awalnya pasti semuanya akan kesulitan. Tapi tergantung seberapa sabar dan konsistennya kita. Juara dunia lari begitu lahir juga tidak langsung jadi pelari. Jadi latihannya bertahap," tandasnya.

(frp/up)
News Feed