Rabu, 21 Nov 2018 19:13 WIB

Hindari Risiko Meninggal Saat Lari, Atlet: Jangan Takut Dibilang 'DNF'

Widiya Wiyanti - detikHealth
Odekta Naibaho. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth Odekta Naibaho. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth
Jakarta - Setiap perlombaan olahraga pasti memiliki risiko, tidak terkecuali perlombaan lari. Baru-baru ini, seorang peserta Borobudur Marathon 2018 meninggal usai memaksakan diri mencapai garis finis.

Agar tak mengalami hal serupa, atlet lari nasional Odekta Elvina Naibaho menyarankan untuk siapapun yang mengikuti perlombaan lari untuk mendengarkan tubuh saat memberikan sinyal-sinyal terjadinya masalah.

"Pertama dia harus bisa dengar tubuh, kalau sudah pusing coba ke medis, atau hidrasinya harus diperhatikan. Pertama-tama biasanya sempoyongan atau kram, ke medis saja," ujarnya kepada detikHealth saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (21/11/2018).



Wanita berusia 27 tahun ini menegaskan untuk tidak mengikuti pelari-pelari lain yang lebih unggul dari segi kecepatan atau kekuatan. Karena itu akan memaksakan kemampuan tubuh dan bisa berakibat fatal.

"Jangan ngikutin pelari-pelari yang lain karena akan kebawa kan suasana saat berlari. Senyamannya kita, kalau speed kita nggak sama dengan dia ya jangan ngikutin. Dengarkan tubuh Anda, artinya kemampuan kamu segitu ya ikutin segitu. Pokoknya se-fun-nya dia, semampunya dia. Jangan ngikutin teman kanan kiri," jelas Odekta.

Kalaupun tidak mampu untuk mencapai garis finis atau biasanya disebut did not finis (DNF) pun tidak perlu merasa malu. Odekta menegaskan tidak perlu mencapai garis finis jika hanya karena gengsi.

"Jangan takut dibilang DNF. Siapa sih yang mempermasalahkan? Tapi namanya orang dikatakan DNF, kenapa malu? Kita nggak berbuat salah, ngikutin prosedur yang dibikin. Kalau nggak mampu jangan dipaksakan," tutupnya.



(wdw/up)
News Feed