Rabu, 17 Apr 2019 19:10 WIB

Ladies, Ingin Coba Angkat Beban? Ikuti Saran Psikolog Cantik Novita Tandry

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Novita Tandry (Foto: Instagram/novitatandry, ditampilkan dengan izin yang bersangkutan) Novita Tandry (Foto: Instagram/novitatandry, ditampilkan dengan izin yang bersangkutan)
Jakarta - Belakangan ini kaum hawa semakin menggemari olahraga angkat beban. Tapi psikolog anak dan remaja Novita Tandry sudah menggelutinya sejak bangku SMA hingga nyaris berusia kepala lima.

Jika kamu salah satu yang sedang berminat untuk melakukan olahraga angkat beban, Novita punya saran terbaik untuk kamu. Lalu apa ya yang harus kita persiapkan terlebih dahulu?

"Sepasang dumbbell dong. Ayo mulai dari sekarang," kata Novita saat mengobrol dengan detikHealth via telepon, ditulis Selasa (16/4/2019).

Namun Novita mencatat, walau latihan beban lebih dikenal dengan 'mengangkat beban', latihan ini bisa dilakukan dengan mengangkat beban tubuh kita sendiri. Gerakan seperti push up, squat, sit up dan plank adalah contoh-contoh gerakannya.



Latihan beban bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Jika kamu bertujuan untuk menurunkan berat badan, olahraga ini sangat cocok karena tubuh akan terus membakar kalori selama 24 jam ke depan, bahkan saat kita tidur.

Novita membandingkan dengan olahraga lari yang hanya membakar kalori saat itu juga. Menurutnya, lari tidak akan terlalu bisa mengubah bentuk badan, kecuali dilakukan untuk latihan kardio atau kekuatan jantung.

Oleh karena itu ia selalu menyemangati para wanita agar tidak pernah takut untuk berotot. Ia menegaskan tubuh wanita tak mungkin akan berotot seperti pria, karena wanita tidak memiliki hormon testosteron. Plus, tidak perlu takut nggak akan laku di mata pria.

"Suami saya justru lebih berotot udah 30-an tahun, lebih berotot dia, kalah saya. Badannya keren banget, sampai sekarang. Hahaha! Saya tuh nggak berotot, toned cuma kenceng aja. Kalau mau berotot kayak suami saya itu ya harus suntik testosteron, padat nggak nggelambir, jadi kalau lagi dadah-dadah, lengannya nggak ikutan dadah (goyang-goyang) juga, hahahaha," katanya.



Latihan beban juga bisa bermanfaat untuk mengurangi risiko pikun di usia tua atau penyakit Alzheimer's. Novita menjelaskan olahraga membuat bagian otak kita yang mempengaruhi long term memory yakni hippocampus semakin kuat. Terlebih lagi, latihan beban juga meningkatkan koordinasi otak kanan dan kiri.

"Orang yang berolahraga, lebih bugar, lebih cerdas, lebih cepat berpikir dan lebih tegas. Kalau latihan beban kan kiri dan kanan, otak kita yang mengatur emosi dan kognitif. Mana ada latihan beban yang kanan doang, nanti nggak rata."

Angkat beban juga tidak perlu melulu dilakukan di gym. Walaupun begitu, Novita juga menyebut tak masalah jika ingin di gym agar mendapat euforia yang lebih besar, memperbanyak teman dan komunitas, atau lebih semangat karena ada motivasi.

Kendala yang sering terjadi, jika anggotanya satu per satu mulai berhenti, maka kita juga akan ikut berhenti. Novita menyarankan untuk mendatangkan tekad dari diri sendiri, dan dengan pemahaman, pengetahuan serta teknis soal latihan beban yang benar untuk mengurangi risiko terjadinya cedera, kita akan mempunyai manfaat yang luar biasa dengan olahraga ini.

(frp/up)