Rabu, 18 Nov 2020 05:42 WIB

Riset: Polusi DKI Tertinggi Pukul 04.00-09.00, Hindari Olahraga Outdoor!

Zintan Prihatini - detikHealth
Shenzhen, ?hina - December 7, 2014: Five medical support people help  injured unidentified marathon runner  on the street,one runner running on the distance,shenzhen city,guangdong province,china Sehatkah kualitas udara DKI untuk olahraga pagi? (Foto: iStock)
Jakarta -

Sebuah penelitian yang dilakukan Nafas, aplikasi soal kualitas udara, menunjukkan polusi udara di Ibukota berada di titik tertinggi pada pukul 04:00 hingga 09:00 pagi. Penilaian ini berdasarkan pemantauan 45 sensors di 10 wilayah administrasi Jabodetabek.

Sementara itu, pukul 04:00 hingga 09:00 adalah waktu paling lazim digunakan oleh warga ibukota untuk berolahraga pagi. Ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan masalah kesehatan lainnya.

Sementara itu, 10 wilayah administrasi Jabodetabek yang dipantau per Agustus 2020 ini meliputi Tangerang Selatan, Bogor, Tangerang, Bekasi, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Depok dan Jakarta Pusat.

"Di semua lokasi tren kualitas udara dalam waktu 24 jam serupa, paling buruknya dari 4 sampai jam 9 pagi, dan paling bagusnya dari jam 3 sampai jam 7 malam," ungkap salah seorang peneliti, Piotr Jakubowski, dalam webinar online, Selasa (17/11/2020).

"Daerah yang bisa dibilang paling hijau memiliki kualitas udara terbaik pada jam 4 hingga 9 pagi, daerah kita yang residential, yang keliatannya ada banyak pohon, termasuk Karawaci, BSD, Alam Sutera," lanjutnya.

Apakah artinya kualitas udara di Jabodetabek pada pukul 4 hingga 9 pagi dipastikan buruk?

"Sayangnya iya," jelas Piotr.

Namun, menurutnya, bukan berarti tak bisa berolahraga sama sekali di jam-jam tersebut. Ada opsi terkait mengatur ulang rencana olahraga hingga memeriksa terlebih dahulu kualitas udara di setiap harinya.

Berikut detailnya:

  • Periksa dulu kualitas udara
  • Revisi rencana olahraga, kalau kualitas udara di atas 100 ppm, durasi atau lama waktu berolahraga bisa dikurangi (jangan lebih dari 90 menit), tempat olahraga bisa diganti, jam olahraga bisa diganti, pindah ke dalam ruangan.

Sementara itu, praktisi kesehatan paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, menyebut olahraga outdoor tetap bisa dilakukan, namun dengan penyesuaian. Salah satunya, ia menyarankan untuk menggunakan masker.

"Ketika kita menghadapi polusi udara, penggunaan masker menjadi suatu yang disarankan. Karena apapun maskernya akan mengurangi paparan masuk debu ke dalam paru. Itu jelas, mau apapun maskernya ya dari yang paling efektif N95," kata dr Erlang.



Simak Video "Bahayanya Polutan PM2,5 Bagi Kesehatan Tubuh"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)