Rabu, 26 Mei 2021 07:40 WIB

Perhatian! Catat Saran Dokter Agar Tak Kolaps saat Gowes

Ardela Nabila - detikHealth
Sejumlah warga mengisi libur tahun baru di Kota Tua Jakarta. Mereka bersepeda mengeliling kawasan Kota Tua. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Awal pekan ini seorang pesepeda road bike dikabarkan meninggal dunia setelah bersepeda di Jalan Layang Non Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, pada Minggu (23/5/2021) pagi. Pria berusia 62 tahun itu diduga meninggal akibat serangan jantung.

Saat dibawa ke rumah sakit dan diperiksa, heart rate atau detak jantung almarhum menunjukkan angka 180. Apa itu heart rate?

Dikutip dari heart.org, heart rate merupakan jumlah detak jantung per menit. Jumlah normal detak jantung tentunya akan berbeda-beda pada setiap orang.

Di samping menentukan jenis olahraga yang tepat, heart rate merupakan salah satu hal yang juga penting untuk diperhatikan. Pasalnya, melakukan olahraga yang melebihi batas kemampuan bisa memicu terjadinya kolaps saat berolahraga.

"Kalau orang itu sehat, sebenarnya melakukan olahraga apapun juga tidak akan masalah selama tidak melampaui batasan kemampuannya. Itu sebabnya kalau berolahraga kita menggunakan monitor jantung," kata dr Michael Triangto, SpKO dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran saat dihubungi detikcom, Minggu (23/5/2021).

Menurut dr Michael, menentukan tujuan olahraga bisa mencegah terjadinya kolaps saat berolahraga. Apabila olahraga tersebut dilakukan untuk tujuan kesehatan, maka sebaiknya olahraga sesuai dengan batas kemampuan tubuh masing-masing.

"Banyak masyarakat yang memahami kalau olahraga itu baik untuk kesehatan, maka olahraga makin berat, maka makin sehat tubuh kita. Padahal tidak," ujar dr Michael.

"Tujuan kesehatan itu (olahraganya) tidak boleh berat. Kalau untuk prestasi harus berat, harus melampaui batasan kemampuan. Kalau tidak, mereka (atlet) sulit untuk mengalahkan orang lain dalam berprestasi. Kalau untuk kesehatan, justru kita tidak boleh melampaui batas-batas keamanan tubuh kita," jelasnya.

Ahli jantung dr Vito A Damay dari Rumah Sakit Siloam Lippo Karawaci turut menyarankan, bagi orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, untuk memperhatikan intensitas olahraganya.

Menurutnya, sebaiknya intensitas olahraga dilakukan secara bertahap dan jangan langsung melakukan olahraga intensitas tinggi. Lakukan pula pemeriksaan rutin ke dokter untuk mencegah terjadinya kolaps jantung saat olahraga.

"Untuk yang pernah punya masalah jantung sebaiknya ketika mulai olahraga naiknya intensitas bertahap. Juga rutin periksa faktor risiko jantung koroner, paramater laboratorium, ekg dan pemeriksaan lain yang diperlukan sesuai penilaian individual oleh dokter," kata dr Vito, Senin (24/5/2021).



Simak Video "Yuk Belajar CPR, Pertolongan Pertama Henti Jantung"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)