Minggu, 14 Nov 2021 22:17 WIB

Penuh Haru di Balapan Terakhir Rossi, Apa Sih yang Bikin Sedih Saat Pensiun?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Petronas Yamaha SRTs Italian rider Valentino Rossi  waits on the grid, prior the French MotoGP, on May 16, 2021, in Le Mans, northwestern France. -  (Photo by JEAN-FRANCOIS MONIER / AFP) Valentino Rossi (Foto: AFP/JEAN-FRANCOIS MONIER)
Jakarta -

Akhirnya rider legendaris MotoGP Valentino Rossi menuntaskan balapan terakhirnya di Sirkuit Ricardo Tormo, Minggu (14/11/2021). Momen perpisahan berlangsung penuh emosi.

Sejumlah tokoh tampak hadir dalam balapan tersebut, di antaranya mantan-mantan rival Rossi di masa jayanya, seperti Max Biaggi dan Casey Stoner. Bahkan tampak pula mantan pesepakbola bintang Inter Milan Ronaldo Luis Nazario de Lima.

Para rider yang berlaga dalam race itu tak ketinggalan memberikan penghormatan. Rider Ducati, Francesco "Pecco" Bagnaia, yang meraih podium 1 secara khusus mempersembahkan kemenangannya untuk sang legenda, Rossi, yang dalam race ini finish di urutan ke-10.

Pun di media sosial, momen perpisahan Rossi juga banyak diperbincangkan. Di Twitter, tagar #GrazieVale bertengger di urutan teratas, disusul 'Rossi' di urutan kedua.

Momen pensiun selalu mengharukan

Bukan cuma bagi penggemar, momen pensiun juga terasa sangat emosional bagi Rossi sendiri. Saat mengumumkan keputusannya untuk pensiun dalam sebuah konferensi pers beberapa bulan yang lalu, Rossi mengaku sangat terharu.

Psikolog klinis Veronica Adesla, M.Psi kepada detikcom menjelaskan, terharu ketika berhadapan dengan momen pensiun adalah hal yang lumrah. Terlebih bagi seseorang yang menjadikan karier sebagai bagian dari identitas dirinya.

"(Perasaan haru saat pensiun) tentunya lumrah, karena kariernya selama ini adalah bagian dari identitas diri dan nilai, keberhargaan dirinya yang sudah terbentuk berpuluh tahun. Meninggalkan kariernya selama ini akan menjadi kehilangan yang sangat juga yang bisa dirasakan olehnya," kata Vero.

Meski demikian, Vero mengatakan bahwa pensiun tidak harus membuat seseorang kehilangan makna diri. Agar pensiun tidak menjadi titik akhir perjalanan hidup, ia menyarankan untuk tetap produktif dan berkarya selepas pensiun.

"Menemukan pemaknaan diri yang baru ketika situasi berubah pasti dapat dilakukan selama kita mau terbuka dan fleksibel. Pemaknaan diri terhubung dengan karya dan aktivitas yang dipilih untuk dilakukan semasa pensiun. Diri kita akan selalu berharga tidak peduli siapa kita dan karir kita," jelas Vero.



Simak Video "Pandemi Sebabkan Masalah Kesehatan Mental Indonesia Meningkat 9 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)