ASN Buncit 'Ditantang' Lari Menkes, Hati-hati Runners Gemuk Rawan Nyeri Lutut

ASN Buncit 'Ditantang' Lari Menkes, Hati-hati Runners Gemuk Rawan Nyeri Lutut

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 13 Nov 2025 18:17 WIB
ASN Buncit Ditantang Lari Menkes, Hati-hati Runners Gemuk Rawan Nyeri Lutut
Foto: Menteri Kesehatan RI (Whisnu Pradana/detikJabar)
Jakarta -

Lari sebagai solusi awal mengenyahkan perut buncit, dinilai dokter tidak selalu tepat. Pasalnya, dalam beberapa kondisi obesitas, termasuk obesitas sentral, pasien kerap mengeluhkan nyeri lutut.

Ketua Bidang Organisasi Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dr Dicky L Tahapary SpPD-KEMD, menekankan prinsip menjalani pola hidup sehat dengan rutin olahraga tidak berpatok pada jenisnya.

"Prinsipnya olahraga aerobik, mau treadmill boleh, mau jalan cepat boleh, kan nggak semua orang bisa lari juga ya, maksudnya kalau dia lutut yang sakit kan nggak boleh lari," tutur dr Dicky saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (13/11/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan pasien obesitas yang berat badannya berlebih itu cukup sering yang ada masalah di lutut, jadi nggak semata-mata bisa kita minta lari," sambungnya.

Alih-alih hanya fokus meningkatkan kebiasaan olahraga, hal utama yang juga prioritas diperbaiki adalah mengatur pola makan.

ADVERTISEMENT

"Biasanya paling cepat menurunkan berat badannya dengan makan dulu sebenarnya kita mengurangi kalori saja. Yang paling banyak kan karbohidrat, makanan yang digoreng, apalagi dengan tepung," jelasnya.

"Itu biasanya paling banyak menyumbang lemak. Kalau itu bisa dikurangi, bisa di-cut lumayan banyak," kata dia.

Pendekatan mengatasi obesitas dan obesitas sentral faktanya tidak sesederhana memulai rutin olahraga. dr Dicky menyebut dalam kasus pasien dengan obesitas ekstrem bahkan kerap diperlukan operasi bariatrik untuk memudahkan dan mempercepat penurunan berat badan.

"Jadi makanya pendekatan obesitas itu kan harus komprehensif, nggak bisa sepotong-sepotong," tuturnya.

Spesifik terkait jenis olahraga, dr Dicky juga menekankan perlu untuk memerhatikan massa otot. Massa otot kerap ikut menurun saat BB turun drastis.

Karenanya, idealnya menurunkan BB adalah lima sampai 10 persen dalam hitungan tiga hingga enam bulan.

"Penurunan berat badan yang terlalu cepat justru bisa mengurangi massa otot, bukan hanya lemak. Kalau hanya fokus pada latihan beban tanpa aerobik, berat badan memang bisa turun tapi tidak signifikan. Karena itu, yang terbaik adalah kombinasi antara latihan aerobik, kekuatan, dan fleksibilitas," pungkas dia.

Halaman 2 dari 2
(naf/up)
ASN Buncit Ditantang Lari
8 Konten
ASN Kemenkes yang memiliki perut buncit disentil Menkes Budi G Sadikin. Selorohnya, yang perutnya buncit mau diajak lari sama Wamenkes. Hayo loh..

Berita Terkait