Jalan kaki adalah olahraga paling sederhana dan mudah dilakukan. Tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecepatan langkah kaki.
Ternyata, langkah cepat atau lambat ternyata dapat memberikan efek berbeda terhadap pembakaran lemak, metabolisme, hingga penurunan berat badan.
Sebuah studi yang dipublikasikan di Nutrients tahun 2022, menemukan bahwa variasi kecemasan berjalan memengaruhi total lemak tubuh dan penggunaan energi pada wanita pascamenopause. Temuan serupa juga ditunjukkan penelitian lain, yang mengungkap perubahan kecepatan berjalan, bahkan yang halus sekalipun, dapat berdampak signifikan pada metabolisme lemak.
Lantas, mana yang lebih efektif membakar lemak, jalan cepat atau lambat?
Berjalan Kaki Memangkas Lemak dari Banyak Sisi
Berjalan kaki bekerja lewat berbagai mekanisme fisiologis. Aktivitas ini meningkatkan oksidasi lemak dengan mengaktifkan metabolisme aerobik, terutama saat dilakukan pada intensitas rendah hingga sedang dalam durasi yang cukup.
Jalan kaki juga diketahui menurunkan lemak visceral, lemak berbahaya yang mengelilingi organ dalam dan berhubungan erat dengan risiko penyakit jantung serta diabetes. Peneliti menunjukkan rutinitas yang konsisten dapat mengecilkan lingkar pinggang, mengurangi lemak perut, bahkan tanpa latihan intensitas tinggi.
Cara Mudah Bedakan Jalan Lambat dan Cepat
Dikutip dari Times of India, panduan simpel untuk mengukur intensitas adalah tes bicara:
- Jalan lambat, berarti bisa ngobrol tanpa terengah-engah.
- Jalan sedang, masih bisa berbicara tetapi mulai terputus-putus.
- Jalan cepat, butuh usaha lebih untuk bicara, napas lebih berat, dan detak jantung meningkat.
(sao/kna)