Jangan Cuma Andalkan Smart Watch, Waspadai Juga 'Tanda Subjektif' Jantung Mau Kolaps

Jangan Cuma Andalkan Smart Watch, Waspadai Juga 'Tanda Subjektif' Jantung Mau Kolaps

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Rabu, 10 Des 2025 10:07 WIB
Jangan Cuma Andalkan Smart Watch, Waspadai Juga Tanda Subjektif Jantung Mau Kolaps
Ilustrasi (Foto: Getty Images/jacoblund)
Jakarta -

Peserta olahraga ekstrem seperti lomba trail run dan lainnya diimbau untuk lebih memperhatikan kemampuan fisik sebelum mengikuti kompetisi. Spesialis kedokteran olahraga dr Andhika Raspati, SpKO, mengatakan kemampuan tubuh harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan ikut kategori lomba yang berat.

"Tau diri dulu. Kita ini sebenarnya sanggup atau sudah layak atau belum sih untuk ikut lari. Apalagi udah ngomongin trail," ucapnya dalam tayangan detikSore, Selasa (9/12/2025).

Menurutnya, peserta yang belum siap mengikuti olahraga ekstrem sebaiknya tidak memaksakan diri dan dapat memilih olahraga dengan tingkat kesulitan lebih ringan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika ke depannya sudah yakin dengan kondisi fisik, dr Andhika menilai pemantauan tubuh saat hari perlombaan tetap penting. Smart watch dapat digunakan untuk memantau detak jantung (heart rate) selama berlari.

@detikhealth_official Trail Run memang bukan ajang biasa. Kejadian ini merupakan pengingat agar kita selalu aware sama tubuh kita kalau mau ikut event lari khususnya Trail Run. Simak penjelasan Dokter @Andhika Raspati untuk tips yang perlu lo siapin untuk ikut Trail Run berikut ya😉 #siksorogolawuultra #trailrunning #pelarikonten #kalcer #olahraga #detikhealth ♬ suara asli - detikHealth

ADVERTISEMENT

Meski begitu, dr Andhika mengingatkan heart rate bukan satu-satunya acuan. Sinyal dari tubuh juga harus diperhatikan, terutama bila muncul keluhan seperti nyeri dada.

"Dengan smart watch. Ngeliat heart rate. Minimal itu. Tapi juga sometimes kita juga mungkin saja. Nggak bisa cuma berpatokan sama heart rate, feeling subjective juga penting," lanjutnya.

"Kayak udah mulai ngerasa kok ngap banget ya, slow down pelan-pelan, atau mulai ngerasa nggak nyaman di dada, atau mulai keliyengan, atau mulai ngerasa kayak mau pingsan dan sebagainya, itu bisa jadi alarm gitu, udah jerit nih, udah dong guys, slow down, slow down gitu," tuturnya lagi.

Ia juga mengingatkan agar peserta tidak memaksakan diri hanya karena mengikuti ritme pelari lain. Menurutnya, kewaspadaan dan pemilihan lomba sesuai kemampuan menjadi kunci mencegah risiko cedera maupun gangguan jantung saat mengikuti olahraga, khususnya olahraga ekstrem.

"Jadi intinya bisa dibilang ya udah. Ya lo mau ngebut ya monggo ngebut," pesannya.

Halaman 2 dari 2
(suc/up)
Lagi-lagi Kolaps saat Lari
21 Konten
Anjuran 'listen to your body' saat lari tak selalu gampang diterapkan. Ego untuk 'push the limit' dan mendapatkan progres tertentu sesuai target, dapat mengaburkan batas-batas kemampuan fisik. Risiko jantung kolaps mengintai para pelari.

Berita Terkait