Peserta olahraga ekstrem seperti lomba trail run dan lainnya diimbau untuk lebih memperhatikan kemampuan fisik sebelum mengikuti kompetisi. Spesialis kedokteran olahraga dr Andhika Raspati, SpKO, mengatakan kemampuan tubuh harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan ikut kategori lomba yang berat.
"Tau diri dulu. Kita ini sebenarnya sanggup atau sudah layak atau belum sih untuk ikut lari. Apalagi udah ngomongin trail," ucapnya dalam tayangan detikSore, Selasa (9/12/2025).
Menurutnya, peserta yang belum siap mengikuti olahraga ekstrem sebaiknya tidak memaksakan diri dan dapat memilih olahraga dengan tingkat kesulitan lebih ringan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika ke depannya sudah yakin dengan kondisi fisik, dr Andhika menilai pemantauan tubuh saat hari perlombaan tetap penting. Smart watch dapat digunakan untuk memantau detak jantung (heart rate) selama berlari.
@detikhealth_official Trail Run memang bukan ajang biasa. Kejadian ini merupakan pengingat agar kita selalu aware sama tubuh kita kalau mau ikut event lari khususnya Trail Run. Simak penjelasan Dokter @Andhika Raspati untuk tips yang perlu lo siapin untuk ikut Trail Run berikut ya😉 #siksorogolawuultra #trailrunning #pelarikonten #kalcer #olahraga #detikhealth ♬ suara asli - detikHealth
Meski begitu, dr Andhika mengingatkan heart rate bukan satu-satunya acuan. Sinyal dari tubuh juga harus diperhatikan, terutama bila muncul keluhan seperti nyeri dada.
"Dengan smart watch. Ngeliat heart rate. Minimal itu. Tapi juga sometimes kita juga mungkin saja. Nggak bisa cuma berpatokan sama heart rate, feeling subjective juga penting," lanjutnya.
"Kayak udah mulai ngerasa kok ngap banget ya, slow down pelan-pelan, atau mulai ngerasa nggak nyaman di dada, atau mulai keliyengan, atau mulai ngerasa kayak mau pingsan dan sebagainya, itu bisa jadi alarm gitu, udah jerit nih, udah dong guys, slow down, slow down gitu," tuturnya lagi.
Ia juga mengingatkan agar peserta tidak memaksakan diri hanya karena mengikuti ritme pelari lain. Menurutnya, kewaspadaan dan pemilihan lomba sesuai kemampuan menjadi kunci mencegah risiko cedera maupun gangguan jantung saat mengikuti olahraga, khususnya olahraga ekstrem.
"Jadi intinya bisa dibilang ya udah. Ya lo mau ngebut ya monggo ngebut," pesannya.











































