Harus diakui bahwa semakin banyak komunitas lari yang perlahan mulai mengubah misinya. Dari yang awalnya lahir untuk 'fun run', berubah jadi soal bagaimana menjadi yang tercepat.
Di satu sisi, ini adalah hal yang bagus karena menunjukkan adanya hasil latihan seseorang. Namun, di sisi lainnya, seperti lahir 'tembok' terlalu tinggi, sehingga tidak bisa dipanjat para pemula.
Berangkat dari keresahan ini, Raka (33) karyawan swasta di Jakarta Pusat mulai mendirikan sebuah komunitas lari bernama 'Gerombolan Pace Besar' bulan Agustus 2025. Alasannya adalah sebagai wadah para pelari pemula yang mulai terpinggirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika kini banyak bertebaran pelari pamer data Strava soal seberapa kecil pace mereka, seberapa kalcer sepatu dan outfit-nya, di 'Gerombolan Pace Besar' justru berfokus pada pengalaman berlari.
"Setiap saya upload lari itu memang satu hal yang saya sadari, banyak intervensi-intervensi sosial yang bikin lari itu jadi terasa eksklusif gitu," kata Raka saat berbincang dengan detikcom, Selasa (20/12/2026).
"Di kota-kota kayak Jakarta, yang saya sadari adalah pelari rekreasional itu jadi semacam ajang gaya-gayaan gitu. Kayak seberapa kalcer outfit-nya, seberapa mahal," sambungnya.
Karena menurut Raka, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk langsung berlari dengan pace yang cepat. Ada banyak yang harus memulainya dari pace lambat, bahkan dari jalan kaki. Dan, semua orang juga berhak punya wadah untuk sehat.
Gerombolan Pace Besar Foto: Dok. Gerombolan Pace Besar atas izin yang bersangkutan |
Olahraga Lari Seharusnya Menyenangkan
Pada dasarnya, olahraga rekreasional apapun itu seharusnya membantu seseorang untuk aktif bergerak dan bugar, sehingga memang wajib menyenangkan. Hal ini, juga diamini oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.
Di komunitas lari milik Raka yang berlari setiap Rabu malam di komplek Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), tawa-tawa itu datang dari para member.
"Udah yang penting lari aja dulu, nggak usah liat Strava, nggak usah nge-liat smartphone. Kalau misal capek, jalan aja gue temenin," kata Raka.
Bahkan, di Gerombolan Pace Besar, Raka mengatakan ada kelompok yang dinamakan 'The Pacer'. Mereka bertugas memang untuk menemani para member yang sudah tidak kuat lari, alih-alih ditinggal.
"Di sini itu, pintu masuk untuk kalian sadar bahwa lari tuh mudah dan murah," katanya.
"Kalau misalkan setelah ini kalian ada improvement, terus merasa mungkin program atau pace-nya udah mulai nggak cocok, feel free untuk gabung ke komunitas lain," tutupnya.












































