Komunitas Jalan Kaki Bermunculan, Alternatif Lari yang Mulai Dianggap Kompetitif

Komunitas Jalan Kaki Bermunculan, Alternatif Lari yang Mulai Dianggap Kompetitif

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Minggu, 18 Jan 2026 07:03 WIB
Komunitas Jalan Kaki Bermunculan, Alternatif Lari yang Mulai Dianggap Kompetitif
Ilustrasi (Foto: Dikhy Sasra)
Jakarta -

Belakangan, mungkin media sosial mulai dipenuhi oleh konten-konten jalan kaki yang santai namun tetap dibungkus menarik oleh sebuah komunitas. Tak hanya sekadar melangkah, komunitas jalan kaki biasanya akan menyusuri gang-gang atau tempat-tempat 'hidden gems' yang sulit diakses dengan kendaraan bermotor.

Komunitas jalan kaki sendiri mulai marak bermunculan di banyak kota. Ini bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin bergerak, tetapi kondisi tubuh belum cukup 'siap' untuk lari atau mengikuti tren olahraga kekinian seperti padel.

Terlebih, muncul pikiran-pikiran soal olahraga lari kini mulai 'eksklusif'. Lari tak lagi sekadar soal kesehatan. Target pace, podium, personal best (PB), hingga adu unggahan di media sosial membuat dunia lari terasa makin kompetitif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini lah yang dirasakan oleh Mahesa (28), walking enthusiast di Malang yang mulai mengikuti agenda-agenda dari komunitas jalan kaki di kotanya bernama 'uklamtahes' sejak 2023 silam.

"Di lain sisi kan sekarang banyak komunitas lari, terus komunitas sepeda juga. Mereka kan bisa dibilang kompetitif ya, terus dengan adanya komunitas jalan kaki ini, kita bisa olahraga yang santai gitu," kata Mahesa saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/1/2026).

ADVERTISEMENT

"Karena kan ini jalan, masuk-masuk gang. Jadi nggak terlalu yang membutuhkan effort. Kalau lari kan butuh effort yang keras banget," sambungnya.

Mahesa mengatakan, biasanya komunitas yang ia ikuti mengadakan agenda 'jalan kaki blusukan' sekitar 2-3 kali dalam sebulan. Di luar itu, dirinya juga mulai membiasakan untuk memilih jalan kaki, alih-alih menggunakan motor jika dirasa tujuannya tidak terlalu jauh.

"Contohnya kalau mau ngopi, jarak 1 km katakanlah, sekarang ini bisa ditempuh jalan kaki," katanya.

Jalan kaki bersama komunitas, lanjut Mahesa juga dianggap lebih menyenangkan. Karena dapat bertemu orang-orang baru dan menjelajah tempat-tempat yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Jalan Kaki dan Efek Kesehatan

Meskipun tergolong sebagai olahraga intensitas ringan, jalan kaki bagi sebagian orang termasuk Mahesa memberikan beragam manfaat, salah satunya adalah membantu mengontrol berat badan.

"Kemarin itu di 2023 itu saya berat di 87 kg. Nah masuk awal tahun ini, lumayan turunnya, nggak terlalu signifikan sih sekarang di 80 kg, turun 7 kg lah," katanya.

"Ngaruh juga sih di waktu tidur. Dulu kan seringnya begadang ya, setelah melakukan olahraga jalan itu, tidur jadi lebeih cepet lebih pulas juga," sambungnya.

Senada, Aurel (24) walking enthusiast dari Malang mengatakan jalan kaki sekarang menjadi salah satu cara untuk menyegarkan diri di sore hari usai bekerja.

"Kalau untuk aku pribadi lebih kayak untuk nge-refresh aja sih terus kayak nafsu makan bertambah," kata Aurel.

Menurut Aurel yang beberapa bulan ke belakang mulai aktif di komunitas jalan kaki mengaku tidak ada beban dalam berolahraga. Menurutnya, jalan kaki ramai-ramai membuat perjalanan jauh menjadi tidak terasa.

"Misalnya kita mau jalan 10 km gitu jadinya nggak kerasa. Enjoy aja, happy aja gitu. Kalau sendiri kan kayak sepi, bosen terus baru dapet berapa langkah udah cukup gitu," tutupnya.

Halaman 2 dari 2
(dpy/kna)
Tren Jalan dan Lari Pelan
3 Konten
Tujuan olahraga adalah untuk sehat, bukan untuk jadi yang tercepat. Komunitas olahraga yang kini mulai penuh ambisi mengejar prestasi jadi terasa makin toksik. Muncul tren baru yang lebih akomodatif bagi para pemula.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads