Fenomena pelari dengan kecepatan lambat atau 'pace keong' masih kerap dianggap sebagai hal memalukan. Tidak sedikit para pemula lari yang akhirnya malas berolahraga atau nggak percaya diri karena merasa mereka tak sekencang pelari lain.
Meskipun begitu, banyak juga pelari pemula yang tak memikirkan stigma ini. Mereka tetap lari dengan bangga walaupun pace-nya dua digit.
Seperti yang dilakukan Nicea (29), karyawan swasta di Jakarta Pusat. Dirinya merasa nyaman bergabung dengan komunitas lari yang tidak berfokus pada kecepatan. Menurutnya suasana seperti ini terasa berbeda dibanding kebanyakan komunitas lari lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya kan yang dikejar itu seberapa cepat, ini malah seberapa lama bisa lari dan aku juga ga pernah tahu pace-nya berapa karena tidak memakai Strava untuk mengukurnya," kata Nicea saat ditemui di komplek GBK, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).
Hal serupa disampaikan Langit (19), seorang mahasiswa di Jakarta. Ia melihat masih banyak orang yang sebenarnya ingin olahraga lari, tetapi terkendala karena belum bisa lari jauh atau cepat seperti pelari lainnya. Menurutnya, keberadaan komunitas dengan pace santai bisa menjadi wadah belajar yang aman.
"Kita lihat banyak teman-teman yang belum bisa lari jauh atau belum bisa lari cepat kayak yang lain. Adanya 'pace besar' bisa menjadi tempat mereka belajar bareng gimana caranya lari bareng tanpa merasa tertinggal," kata Langit.
Langit menambahkan, pelari pemula dengan pace keong tidak perlu takut memulai atau minder bergabung dengan komunitas, yang terpenting adalah menikmati setiap prosesnya.
Start Low, Go Slow
Sebenarnya, bagi para pemula di olahraga lari tidak ada salahnya memulai dengan kecepatan lambat ala siput.
Menurut Spesialis Kedokteran Olahraga, Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO Subsp. APK(K), MARS mengatakan pemula lari memang seharusnya memulai semuanya dengan kecepatan lambat.
"Masalah terbesar pelari pemula itu justru bukan terlalu pelan, tapi terlalu cepat di awal," ujar dr Listya, kepada detikcom, di Depok, Kamis (22/1/2026).
Banyak pemula memaksa mendapatkan pace kecil karena Fear of Missing Out (FOMO), membandingkan diri dengan teman, atau terpengaruh konten media sosial. Ada juga anggapan bahwa lari harus selalu sampai ngos-ngosan agar terasa efektif
dr Listya menambahkan, lari pelan menjadi fondasi yang sehat. Untuk pemula, prinsip yang dianjurkan adalah start low, go slow, yaitu memulai dari intensitas rendah lalu meningkatkannya secara bertahap.
"Kalau start-nya pace keong, ya dari pace keong itu yang dinaikkan pelan-pelan. Jangan tiba-tiba langsung kencang," ujarnya.
Ia menekankan bahwa lari bukan olahraga berintensitas rendah. Bahkan lari santai tetap tergolong aktivitas dengan intensitas sedang hingga tinggi. Maka, penting bagi setiap orang untuk memahami kondisi tubuhnya sebelum mulai berlari dan menyesuaikan intensitas latihan dengan kemampuan masing-masing.
"Kan tiap orang beda-beda ya, kalau dia sehat ya paling pegal, kemungkinan cedera. Kalau dia ada masalah lain yang lebih dari itu, ya itu akan membahayakan," tutupnya.











































