Cedera Hamstring Bikin Dorgu Absen Bela MU, Bisakah Kondisinya Balik ke Performa Awal?

Cedera Hamstring Bikin Dorgu Absen Bela MU, Bisakah Kondisinya Balik ke Performa Awal?

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Kamis, 29 Jan 2026 18:07 WIB
Cedera Hamstring Bikin Dorgu Absen Bela MU, Bisakah Kondisinya Balik ke Performa Awal?
Foto: Action Images via Reuters/Peter Cziborra
Jakarta -

Harga mahal harus dibayar Manchester United usai tumbangkan Arsenal di lanjutan Liga Inggris. Wonderkid Setan Merah, Patrick Dorgu kena cedera hamstring.

Patrick Dorgu diketahui mengalami cedera hamstring di kaki kanannya. Menukil The Sun, pemain berusia 21 tahun ini kemungkinan menepi dari lapangan selama 10 pekan.

Apa Itu Cedera Hamstring?

Dikutip dari National Health Service (NHS) otot hamstring adalah otot yang terletak di bagian belakang paha. Seseorang dapat mengalami cedera pada otot ini saat berolahraga atau bermain olahraga seperti sepakbola, baik itu robekan toto atau tarikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cedera hamstring biasanya menimbulkan rasa nyeri tajam di paha belakang. Jika cedera parah, mungkin juga merasakan sensasi seperti terbentur atau mendengar suara 'pop' atau letupan.

Setelah cedera, bagian belakang paha mungkin terasa nyeri saat disentuh dan menjadi bengkak serta memar setelah beberapa jam. Kondisi ini akan menyebabkan pasien sulit berdiri atau berjalan.

ADVERTISEMENT

Cedera hamstring yang parah dapat membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk sembuh dan mungkin memerlukan perawatan dari spesialis.

Pembedahan mungkin diperlukan untuk jenis cedera hamstring yang paling serius di mana terjadi robekan total pada otot tersebut.

Apakah Bisa Kembali ke Performa Awal?

Menepinya Dorgu untuk sementara menjadi kerugian bagi tim Setan Merah. Pasalnya, pemain Timnas Denmark tersebut sedang dalam performa terbaiknya.

Sebuah studi tahun 2025 yang diterbitkan di BMJ Open Sport & Exercise Medicine mengungkapkan bahwa pasien cedera hamstring akan melakukan rehabilitasi untuk mengembalikan performa mereka.

Program rehabilitasi dimulai pada hari cedera atau segera setelah diagnosis dikonfirmasi. Atlet memulai dengan beban berat, sedini dan sebanyak mungkin untuk mempertahankan tingkat kebugaran, mengatasi inhibisi sentral dan lokal, serta membangun kapasitas jaringan.

Latihan ini berupa latihan isometrik dan konsentrik. Setelah dipastikan tidak ada rasa sakit, barulah mereka menjalani latihan seperti sebelumnya seperti sprint, lompat satu kaki, loncatan, berlari, hingga akselerasi dengan perubahan arah sampai benar-benar pulih dan kembali ke performa terbaik.

Halaman 2 dari 2
(dpy/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads