Aksi Alysa Liu (20) atlet seluncur es atau women's figure skating dari Amerika Serikat (AS) sukses mencuri perhatian jutaan pasang mata. Ini setelah Alysa berhasil menyabet medali emas di ajang Winter Olympics 2026.
Di balik kesuksesan Alysa mengakhiri paceklik 24 tahun AS tanpa atlet wanita di puncak podium seluncur es, ada perjalanan emosional yang ia lalui yakni bangkit dari keterpurukan dan mengubah keadaan.
Dikutip dari USA Today, di tahun 2022 setelah Olimpiade Beijing, Alysa mengumumkan bahwa dirinya pensiun dari olahraga skating. Menariknya, pengumuman pensiun ini dibagikannya dengan cara khas Gen Z, yakni melalui medsos.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Burnout dan PTSD
Ketika Alysa pensiun pada tahun 2022, kemungkinan untuk kembali ke arena seluncur es sudah tertutup. Saat itu, ia mengalami PTSD yang sangat parah sehingga ia tidak mau mendekati arena seluncur es.
"Haiii, jadi saya di sini untuk mengumumkan bahwa saya pensiun dari olahraga skating," tulis Alysa dalam sebuah unggahan di Instagram yang kemudian ia hapus.
Kabar pensiun ini datang dari Alysa karena dirinya merasa olahraga skating tidak lagi menarik dan dirinya 'kehilangan motivasi', sehingga istirahat dianggapnya jadi solusi untuk mentalnya.
Empat tahun kemudian, Alysa telah menulis kisah kebangkitan yang luar biasa. Puncaknya adalah kemenangan medali emas Olimpiade di nomor tunggal putri.
Saat kembali lagi ke arena, Alysa memulai semuanya dengan berbeda seperti memilih musik dan kostumnya sendiri, serta tidak ada paksaan untuk diet. Dirinya juga meluangkan waktu dengan teman-temannya seperti menonton film, dan tetap berlatih keesokan harinya.
"Saya berharap dengan semua perhatian ini, setidaknya saya dapat meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental dalam olahraga," kata Alysa setelah kemenangannya.
Dengan itu, dirinya seakan mengirimkan pesan kepada para skater dan penonton di mana pun bahwa kesehatan mental adalah bagian penting dari perjalanannya.
"Dia sedang mendobrak batasan. Dia mengajari kita semua secara langsung apa artinya bekerja dari dalam ke luar," kata psikolog olahraga Michael Gervais.











































