Arsenal Juara, Kok Fans Rival 'Panas'? Ini Wanti-wanti Dokter Jiwa

Inspirasi Sehat

Arsenal Juara, Kok Fans Rival 'Panas'? Ini Wanti-wanti Dokter Jiwa

detikHealth
Rabu, 27 Mei 2026 05:05 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Arsenals Martin Odegaard lifts the Premier League trophy after the Premier League match at Selhurst Park, London. Picture date: Sunday May 24, 2026. (Photo by John Walton/PA Images via Getty Images)
Momen pemain Arsenal mengangkat trofi gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026 (Foto: PA Images via Getty Images/John Walton - PA Images)
Jakarta -

Kesuksesan Arsenal meraih gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026 membuat linimasa media sosial 'memanas'. Saat Gooners merayakan kesuksesan Mikel Arteta setelah 22 tahun menanti, ada sekumpulan fans klub lain yang sibuk menyindir dan tampak kesal melihat rivalnya berpesta.

"Arsenal katanya juara liga inggris, tp kok sepi amat, ga ada yg peduli apa ya?" tulis salah satu akun di Threads, dikutip detikcom Selasa (26/5/2026).

"Jujur lucu dan agak gimana gitu, liat postingan dan komenan fans lain tentang Arsenal. Rasanya kayak gerah bener liat Arsenal juara, sampe2 bilang fans Arsenal kurang kerjaan nyenggol2 timnya padahal udah juara atau bilang fans Arsenal berisik," tulis akun lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ ketidaksukaan melihat rival bahagia sebenarnya manusiawi dalam rivalitas olahraga. Selama hal ini hanya sekadar candaan atau bagian dari identitas penggemar.

"Ketika Arsenal justru juara, muncul ketidaknyamanan psikologis karena realita tidak sesuai harapan. Dalam psikologi disebut cognitive dissonance," kata dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Selasa (26/5/2026).

ADVERTISEMENT



Namun, dr Lahargo mewanti-wanti agar jangan sampai kebablasan dalam mengelola emosi. Pasalnya, alih-alih bercanda, hal ini justru bisa merugikan diri sendiri karena dapat menjadi stres dari hal yang sebenarnya tidak perlu.

"Selama masih dalam batas bercanda dan hiburan tentu normal. Tetapi kalau sampai memicu kebencian berlebihan, stres, atau toxic terus-menerus, itu menunjukkan regulasi emosinya mulai kurang sehat," tegasnya.

"Karena pada akhirnya olahraga seharusnya menjadi sarana hiburan, relasi sosial, dan pelepas stres, bukan sumber permusuhan berkepanjangan," sambungnya.

Menurut dr Lahargo, sepakbola bukan hanya soal menang dan kalah. Kadang ia menjadi tempat manusia mencari rasa memiliki, harapan, dan kebersamaan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: IDAI Soroti Poster Film 'Aku Harus Mati', Dinilai Picu Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads