Viral Tren Slow Jogging ala Korea, Ternyata Sudah Lama Ada di Indonesia

Round Up

Viral Tren Slow Jogging ala Korea, Ternyata Sudah Lama Ada di Indonesia

detikHealth
Kamis, 23 Jul 2026 06:05 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Slow Jogging Indonesia
Slow Jogging Indonesia (SJI) berlatih di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta (Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth)
Jakarta -

Tren slow jogging semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Olahraga yang berasal dari Jepang ini mulai banyak diminati karena dinilai lebih ringan dibanding jogging konvensional, tetapi tetap mampu memberikan manfaat bagi kebugaran tubuh.

Tren ini diciptakan oleh ahli fisiologi Prof Dr Hiroaki Tanaka. Dikutip dari laman Fukuoka University, Prof Tanaka telah menerbitkan buku-buku soal slow jogging yang tidak hanya diterbitkan di Jepang, tapi juga Amerika Serikat, Korea Selatan, Polandia, dan negara lain.

Secara sederhana, slow jogging dilakukan dengan kecepatan yang sangat nyaman, bahkan hanya sedikit lebih cepat dari berjalan kaki yakni sekitar 3 hingga 5 km/jam. Saat melakukannya, seseorang masih dapat berbicara tanpa kehabisan napas atau menggunakan metode talk test.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sempat Viral di Korsel

Sebelumnya, tren ini sempat viral di Korea Selatan. Banyak lansia yang mengikuti tren ini, sehingga dianggap slow jogging sangat ramah untuk pemula.

Latihan ini sangat ramah terhadap sendi karena meminimalkan beban benturan pada lutut dan pergelangan kaki. Kondisi ini membuat slow jogging dinilai aman bagi pemula, lansia, maupun orang yang memiliki persendian lemah.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, meskipun santai, manfaat biologis yang didapatkan tubuh justru sangat maksimal. Berlari pelan terbukti ampuh melindungi tubuh dari risiko cedera otot dan sendi.

Secara medis, lari lambat membantu membangun daya tahan tubuh jangka panjang karena meningkatkan kapasitas aerobik atau VO2 Max (kemampuan otot menyerap oksigen).

"Berlari dengan ritme lambat akan merangsang pertumbuhan lebih banyak pembuluh darah kapiler baru, sehingga oksigen lebih mudah masuk ke otot," jelas Todd Buckingham, PhD, seorang pelari, atlet triathlon, dan profesor tamu ilmu olahraga di Grand Valley State University kepada Health.

"Selain itu, latihan ketahanan ini juga meningkatkan jumlah mitokondria yang berfungsi sebagai pabrik energi bagi otot tubuh," lanjutnya.

Ada Komunitasnya di Indonesia

Jauh sebelum viral di Korea Selatan, tren slow jogging ternyata sudah lebih dulu hadir di Indonesia. Sebuah komunitas slow jogging, yakni 'Slow Jogging Indonesia', bahkan sudah terbentuk sejak 30 Desember 2017.

Pengurus SJI, Wijang Sri Isnandita (49) mengatakan komunitas ini awalnya dibentuk di Yogyakarta dan saling bertukar informasi melalui Facebook.

Karena banyaknya peminat, maka SJI mencoba untuk melebarkan 'sayapnya' dan mulai berlari di Jakarta, atau tepatnya di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).

"Dulu komunitas di Facebook. Tapi kami dulu tersebar, kami latihannya by video terus dikirim, nanti dibetulkan running performance-nya. Pesertanya mayoritas adalah bapak-bapak, yang mau mengawali belajar lari," kata Wijang kepada detikcom, saat ditemui di Komplek GBK, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Wijang menambahkan bahwa komunitas ini memang diperuntukkan untuk pemula yang ingin belajar lari dan merasa kurang percaya diri jika harus ikut komunitas lari yang mungkin banyak yang sudah jago.

"Alhamdulillah, dari yang awalnya banyak yang pace 12, sekarang sudah banyak yang pace 4 itu sudah banyak," katanya.

Wijang mengatakan, konsep dari SJI dan slow jogging di Korsel bisa dikatakan sama, karena berkiblat pada penciptanya yakni Prof Hiroaki Tanaka.

"Bedanya kalau di Indonesia, kita latihan bersamanya jarang ya. Dulu pernah ada terus vakum. Kalau di Korsel kan dia bisa latihan bersama, kayaknya konsisten untuk latihan bersama," katanya.

Manfaat Slow Jogging Menurut Dokter

Dokter spesialis kedokteran olahraga dari RSUI, Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS mengatakan bahwa meskipun lari lambat, slow jogging juga bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang.

"Dalam jangka panjang, hal ini justru memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar. Singkatnya, sebenarnya olahraga terbaik bukan yang paling berat, tetapi yang paling bisa kita lakukan secara konsisten," kata dokter yang akrab disapa dr Tata tersebut.

Slow jogging memiliki beberapa kelebihan daripada jogging normal, di antaranya:

  • Lebih mudah dilakukan pemula
  • Lebih nyaman bagi lansia
  • Beban sendi relatif lebih rendah
  • Risiko cedera lebih kecil
  • Lebih mudah dipertahankan sebagai kebiasaan

"Jadi sebenarnya bukan soal mana yang lebih unggul, tetapi mana yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan seseorang. Karena olahraga yang terbaik adalah olahraga yang aman, sesuai kemampuan, dan bisa dilakukan secara rutin," katanya.

Siapa Saja yang Disarankan?

Berikut beberapa kelompok yang direkomendasikan untuk ikut tren slow jogging, di antaranya:

  • Pemula yang baru mulai aktif
  • Orang dengan berat badan berlebih atau obesitas
  • Usia paruh baya dan lansia yang masih mampu berolahraga
  • Individu yang sedang meningkatkan kebugaran secara bertahap
  • Orang yang merasa jogging biasa terlalu berat
  • Mereka yang sedang membangun kebiasaan aktif bergerak

"Namun, bagi atlet atau individu yang memiliki target performa tertentu, slow jogging biasanya hanya menjadi salah satu bagian dari program latihan, bukan satu-satunya bentuk latihan," katanya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video KuTips: Resep Sehat Bugar 'GEMBIRA' ala Kak Seto di Usia 74 Tahun"
[Gambas:Video 20detik] (dpy/up)
Tren Slow Jogging
4 Konten
Tren slow jogging lagi viral banget di socmed, katanya lebih efektif membakar kalori tanpa harus ngos-ngosan. Buat persendian, relatif lebih aman dibanding lari kencang karena bersifat low impact. Sampai-sampai, ada komunitasnya juga lho.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads