Pelatih Joanna Wietrzyk (24), Chris Bayens akhirnya buka suara soal cibiran yang diterima anak asuhnya. Ini terjadi imbas insiden 'cepirit' atau encopresis Joanna di ajang HYROX Beijing 2026.
Joanna menjadi viral di jagat maya usai foto dan videonya muncul yang menunjukkan inkontinensia feses saat tengah berjuang di kompetisi HYROX Beijing.
Banyak orang marah kepadanya dan panitia lomba karena dianggap tidak bisa menjaga situasi. Namun, pihak penyelenggara sudah mensterilkan arena usai insiden tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari New York Post, para pengguna media sosial dan sesama atlet mengeluhkan bahwa mereka terpapar situasi yang dianggap berbahaya, selain licin juga risiko kontaminasi.
Atas kejadian ini, Bayens mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Joanna merupakan sesuatu yang tidak terduga dan terjadi begitu cepat.
"Sangat mudah untuk menyusun respons yang sempurna setelah momen itu berlalu. Keputusan-keputusan itu dapat ditinjau dan pelajaran dapat diambil darinya," tulis Bayens di media sosialnya.
Bayens menegaskan bahwa dirinya dapat menerima segala kritik terkait polemik encopresis di tengah lomba. Namun, terkait kebencian dan serangan kepada personal, ia tidak bisa menerimanya.
"Tidak ada seorang pun yang sempurna, baik dalam olahraga, di media sosial, maupun dalam kehidupan nyata," katanya.
Apa yang terjadi sungguh luar biasa. Kebencian yang muncul setelahnya sangat buruk."










































