Tren olahraga saat ini berkembang tidak sekadar sebagai rutinitas menjaga kebugaran, melainkan sudah bergeser menjadi gaya hidup yang semakin kompetitif. Dari ajang maraton hingga latihan fisik harian, banyak orang terdorong untuk terus melampaui batas demi mencapai pencapaian terbaik.
Di tengah semangat kompetitif ini, aspek mendasar yang paling krusial sering kali terabaikan, seperti kondisi dan kesehatan organ vital jantung itu sendiri. Lantas, seberapa penting peran perangkat pintar seperti smartwatch dalam mengawal aktivitas fisik berintensitas tinggi?
Sehat Dulu, Baru Berolahraga
Training Director Huawei Device Indonesia, Edy Supartono menekankan, tujuan utama dari berolahraga pada dasarnya adalah menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, bukan sekadar memburu aktivitas fisiknya semata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan teknologi pemantau kesehatan pada perangkat pintar bertindak sebagai sistem manajemen kesehatan yang menilai kesiapan fisik (physical readiness) seseorang sebelum mulai berolahraga.
Perangkat pintar memberikan panduan awal apakah kondisi fisik siap untuk melakukan olahraga berat atau justru membutuhkan istirahat.
"Makanya, health management system (dalam perangkat pintar) itu juga membantu untuk mempersiapkan si pengguna ini untuk melakukan olahraga. Jadi, dia mempersiapkan secara awal, dia memberitahu kepada penggunanya apakah secara physical dia ready untuk olahraga atau nggak," jelas Edy kepada detikcom usai Media Roundtable Huawei di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
"Kemudian, yang berikutnya, pada saat dia melakukan olahraga, tidak hanya sekadar untuk mendeteksi kualitas dari olahraganya, tapi juga memberikan analisis," lanjutnya.
Jam Pintar HUWEI Watch GT 7 Pro dengan fitur-fitur pemantau kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto |
Pandangan Medis: Jangan Nekat Mengabaikan Sinyal Tubuh
Dari sudut pandang medis, kebiasaan menantang fisik melebihi batas-batas kemampuan sendiri tanpa keterukuran dan pembiasaan fisik yang matang saat berolahraga berat sangat tidak dianjurkan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr dr Isman Firdaus, SpJP(K), FIHA, FESC, FSCAI mengingatkan, para pegiat olahraga agar tidak nekat memaksakan diri mengikuti kecepatan atau standar orang lain.
"Buat yang masih baru olahraga, bukannya nggak boleh (olahraga berat). Ikut aja, nggak apa-apa, tapi jangan dipaksain untuk ngebut ngikutin para profesional yang udah terbiasa lari. Jalan aja biasa, lari biasa. Kalau udah capek itu, jangan dipaksain," ucap dr Isman saat diwawancarai, Senin (29/9/2026).
dr Isman menjelaskan, untuk tujuan kebugaran harian, batas intensitas latihan sebaiknya dijaga pada rentang moderat, yaitu 50 hingga 85 persen dari detak jantung maksimal.
Mengabaikan rasa lelah demi mencapai target tertentu sama saja dengan membahayakan kesehatan organ vital.
Cek Detak Jantung dan Waktu Recovery
Di sinilah peran penting perangkat pintar untuk membantu menjaga agar batas-batas aman medis tersebut tidak terlampaui secara tidak sadar.
Memantau kesehatan jantung menggunakan device tidak sebatas mencatat angka denyut nadi saat bergerak, melainkan juga memberikan analisis yang mendalam.
Edy menjelaskan, analisis pasca-olahraga membantu pengguna mengetahui kualitas latihan secara objektif, termasuk rekomendasi waktu pemulihan (recovery time) sebelum memulai latihan berikutnya.
Evaluasi berbasis data penting dilakukan setiap habis olahraga agar recovery lebih optimal. Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto |
Mengukur Kemampuan Diri, Bukan Mengikuti Standar Orang Lain
Terakhir, smartwatch dengan fitur yang lengkap juga membantu pegiat olahraga agar tetap fokus pada grafik perkembangan diri sendiri, alih-alih terjebak pada tren pamer indikator di media sosial.
Setiap orang memiliki kondisi tubuh, usia, dan latar belakang fisik yang berbeda, sehingga standar latihan tidak bisa disamaratakan.
"Kalau misalnya kita bicara trend, sebaiknya sih trend ini harusnya mengarah ke sesuatu yang lebih sehat ya. Seperti mengukur kemampuan diri sendiri. Karena tidak baik untuk memaksain, dia harus sadar kemampuannya dan punya target untuk next performance-nya dia harus ada di level berapa," tutup Edy.
Kesimpulannya, memadukan panduan medis dan pemantauan perangkat pintar secara terukur menjadi kunci utama dalam berolahraga secara aman.
Dengan memahami kesiapan fisik dan tidak memaksakan diri melampaui batas kemampuan, olahraga dapat memberikan manfaat kebugaran jangka panjang tanpa harus mempertaruhkan keselamatan jantung.












































