Demam olahraga lari membuat event maraton selalu dipadati pelari. Dari jarak 5K, 10K, hingga full marathon, antusiasme untuk berpartisipasi terasa sangat tinggi.
Namun, di balik euforia running culture ini, perlukah memastikan organ jantung benar-benar siap menerima beban kerja fisik dengan intensitas tinggi?
Banyak pelari amatir merasa tubuhnya "baik-baik saja" hanya karena tidak pernah merasakan keluhan saat beraktivitas harian. Beberapa bahkan merasa sudah aman hanya karena pernah melakukan rekam jantung biasa (EKG) saat medical check-up.
Padahal, untuk jenis olahraga high-impact dan high-intensity seperti maraton, pemeriksaan jantung saat kondisi istirahat sering kali tidak cukup.
Kenapa EKG Biasa Saja Tidak Cukup?
Rekam jantung biasa atau EKG hanya merekam aktivitas listrik jantung saat tubuh dalam kondisi diam. Masalahnya, penyempitan pembuluh darah koroner atau kelainan irama jantung sering kali tidak memicu gejala apa pun saat sedang duduk atau berjalan santai.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr dr Isman Firdaus, SpJP(K), FIHA, FESC, FSCAI menjelaskan, pemeriksaan EKG yang hasilnya normal tidak otomatis menjamin jantung bebas dari risiko gangguan saat dipacu berlari.
"EKG bukan untuk diagnostik dan sifatnya check-up. Begini, ya, EKG hanya untuk lihat (aktivitas atau sinyal listrik jantung) saja. Bukan berarti kalau EKG-nya normal, nggak ada apa-apa. Itu aja intinya," ucap dr Isman kepada detikcom, Selasa (29/9/2026).
Untuk mengetahui kondisi pembuluh darah dan listrik jantung secara objektif saat olahraga, jantung perlu diberikan beban kerja nyata. Di sinilah pentingnya Treadmill Test sebagai langkah preventif.
"Jadi harus di, dipacu ya jantungnya. Supaya pasti nggak ada apa-apa, gitu. Dipacu dengan lari dengan treadmill. Bagusnya sih kalau umur di atas 35 (tahun) treadmill dulu, biar aman gitu," katanya.
Melalui treadmill test, dokter dapat memantau rekaman listrik jantung secara realtime saat beban lari ditingkatkan secara bertahap.
Jika ada potensi kekurangan oksigen (hipoksia) atau bakat aritmia, hal tersebut bisa terdeteksi sejak awal sebelum terjun ke lintasan maraton.
Simak Video "Video: Mitos-Fakta Seputar Kesehatan Jantung Anak"
(aur/up)