Seberapa Penting Treadmill Test Sebelum Ikut Event Lari?

Seberapa Penting Treadmill Test Sebelum Ikut Event Lari?

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Minggu, 04 Okt 2026 08:08 WIB
Running together. Side view of young beautiful women looking away while running on treadmill at gym.
Cek kebugaran jantung sebelum ikut event lari. Foto: Getty Images/iStockphoto/Harbucks
Jakarta -

Demam olahraga lari membuat event maraton selalu dipadati pelari. Dari jarak 5K, 10K, hingga full marathon, antusiasme untuk berpartisipasi terasa sangat tinggi.

Namun, di balik euforia running culture ini, perlukah memastikan organ jantung benar-benar siap menerima beban kerja fisik dengan intensitas tinggi?

Banyak pelari amatir merasa tubuhnya "baik-baik saja" hanya karena tidak pernah merasakan keluhan saat beraktivitas harian. Beberapa bahkan merasa sudah aman hanya karena pernah melakukan rekam jantung biasa (EKG) saat medical check-up.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, untuk jenis olahraga high-impact dan high-intensity seperti maraton, pemeriksaan jantung saat kondisi istirahat sering kali tidak cukup.

ADVERTISEMENT

Kenapa EKG Biasa Saja Tidak Cukup?

Rekam jantung biasa atau EKG hanya merekam aktivitas listrik jantung saat tubuh dalam kondisi diam. Masalahnya, penyempitan pembuluh darah koroner atau kelainan irama jantung sering kali tidak memicu gejala apa pun saat sedang duduk atau berjalan santai.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr dr Isman Firdaus, SpJP(K), FIHA, FESC, FSCAI menjelaskan, pemeriksaan EKG yang hasilnya normal tidak otomatis menjamin jantung bebas dari risiko gangguan saat dipacu berlari.

"EKG bukan untuk diagnostik dan sifatnya check-up. Begini, ya, EKG hanya untuk lihat (aktivitas atau sinyal listrik jantung) saja. Bukan berarti kalau EKG-nya normal, nggak ada apa-apa. Itu aja intinya," ucap dr Isman kepada detikcom, Selasa (29/9/2026).

Untuk mengetahui kondisi pembuluh darah dan listrik jantung secara objektif saat olahraga, jantung perlu diberikan beban kerja nyata. Di sinilah pentingnya Treadmill Test sebagai langkah preventif.

"Jadi harus di, dipacu ya jantungnya. Supaya pasti nggak ada apa-apa, gitu. Dipacu dengan lari dengan treadmill. Bagusnya sih kalau umur di atas 35 (tahun) treadmill dulu, biar aman gitu," katanya.

Melalui treadmill test, dokter dapat memantau rekaman listrik jantung secara realtime saat beban lari ditingkatkan secara bertahap.

Jika ada potensi kekurangan oksigen (hipoksia) atau bakat aritmia, hal tersebut bisa terdeteksi sejak awal sebelum terjun ke lintasan maraton.

Siapa Saja yang Wajib Ikut Treadmill Test?

Tidak semua orang harus langsung melakukan pemeriksaan lanjutan jika tidak memiliki faktor risiko tertentu.

Namun, dr Isman mengimbau, terdapat beberapa kelompok pelari berikut yang wajib atau sangat direkomendasikan melakukan cek jantung sebelum mengikuti event lari berintensitas tinggi.

1. Pelari berusia di atas 35 tahun

Kelompok usia ini memiliki risiko perubahan struktural atau pembuluh darah yang perlu dipastikan keamanannya sebelum dipacu.

2. Memiliki riwayat keluarga dengan sakit jantung

Faktor genetik memegang peranan penting pada risiko kardiovaskular.

3. Pelari yang aktif merokok atau mantan perokok

Paparan zat dalam rokok memengaruhi elastisitas dan kesehatan pembuluh darah koroner.

4. Memiliki komorbiditas

Penyakit seperti hipertensi, kencing manis atau diabetes, dan kolesterol tinggi meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah tanpa gejala awal.

5. Pelari dengan kondisi obesitas

Beban kerja jantung pada individu dengan berat badan berlebih jauh lebih berat saat berlari.

6. Pernah mengalami gejala tidak biasa

Siapa pun yang memiliki riwayat pernah pingsan, dada terasa nyeri atau tidak nyaman, atau jantung sering berdebar tidak wajar perlu memeriksakan diri sebelum mulai mengikuti maraton.

Sebagai penutup, dr Isman mengatakan, tren lari dan menantang batas kemampuan diri adalah hal yang positif. Namun, melangkah ke garis start tanpa mengetahui kondisi organ vital berisiko tinggi terhadap kesehatan jantung.

Langkah preventif sederhana seperti treadmill test dilakukan untuk memastikan pelari bisa menikmati sesi maraton dengan aman, nyaman, dan berkelanjutan di masa mendatang.

"Jadi, tetap budayakan olahraga. Apresiasi buat teman-teman yang terus untuk budayakan running culture. Namun, buat teman-teman yang di atas 35 tahun untuk memastikan kondisi kesehatan jantungnya terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan olahraga yang high intensity," tutupnya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Mitos-Fakta Seputar Kesehatan Jantung Anak"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)
Tren Flexing Heart Rate
8 Konten
Ribut-ribut antara dokter jantung vs netizen kembali meramaikan jagat maya. Kali ini, pendapat dokter jantung tentang HR Max atau denyut jantung maksimal saat berolahraga didebat oleh netizen yang merasa hitungan sang pakar tidak masuk logikanya.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads