Olahraga lari sedang digemari dan menjelma gaya hidup kekinian. Namun, di balik serunya running culture, ada standar tak tertulis di media sosial yang sering kali membuat risih: pamer Heart Rate (HR) rendah di pace kencang.
Angka HR rendah di layar smartwatch mendadak jadi simbol kebugaran dan justru berbelok jadi ajang flexing, adu gengsi dan validasi di media sosial.
Dampaknya, tak sedikit pelari amatir yang merasa insecure saat angka HR mereka justru meroket tinggi walau sedang tidak berlari kencang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jantung Atlet vs Pelari Amatir
Mengapa jantung atlet bisa tetap tenang di HR rendah saat berlari cepat, sementara pelari amatir baru lari sebentar saja HR-nya langsung melejit?
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr dr Isman Firdaus, SpJP(K), FIHA, FESC, FSCAI menjelaskan, lonjakan HR yang cepat pada pelari pemula atau amatir adalah hal yang sangat alamiah karena otot jantung belum terbiasa dengan aktivitas berlari berat.
"Kan kalau kita lari kan berarti pompa jantung kerjanya lebih kuat kan. Yang biasanya kerjanya biasa, tiba-tiba disuruh lebih kuat. Jantung butuh waktu untuk beradaptasi," ujar dr Isman kepada detikcom, Selasa (29/9/2026).
Saat seseorang yang belum terbiasa mulai berlari, kebutuhan oksigen tubuh meningkat drastis. Karena volume pompa sekali denyut (stroke volume) jantung amatir belum sebesar atlet, pemacu alami jantung terpaksa berdenyut lebih cepat untuk memenuhi oksigen tubuh.
"Dalam mencapai heart rate, orang yang baru mulai, baru jalan sebentar kadang-kadang heart rate-nya naik cepat. Baru 2 km, 1 km, sudah 150-160 (HR-nya). Tapi, kalau yang sudah rutin, baru jalan 2 km saja paling bisa hanya 90 atau 110," katanya.
Oleh karenanya, bukan menjadi sebuah tanda kegagalan jika HR pelari amatir menyentuh angka 150 hingga 160 BPM (Beat Per Minute) meski baru berlari ringan. Hal tersebut adalah respons fisiologis normal dari jantung yang sedang beradaptasi.
Ada Proses Adaptasi dan Efisiensi Energi
Lantas, mengapa pelari profesional atau mereka yang sudah rutin berlatih justru memiliki HR yang jauh lebih rendah pada kecepatan (pace) yang sama?
Jawabannya terletak pada mekanisme adaptasi fisiologis dan efisiensi pompa jantung.
Seiring bertambahnya frekuensi latihan yang terstruktur, otot jantung akan mengalami proses conditioning. Jantung belajar memompa volume darah yang lebih besar dalam satu kali denyutan (stroke volume), sehingga tidak perlu berdenyut terlalu sering.
"Nah, sampai suatu ketika jantung sudah terbiasa, dia akan terkondisikan. Namanya mekanisme adaptasi conditioning, ya, tubuhnya. Nah, itu dia akan tahan terhadap kondisi penggunaan energi. Jadi, namanya efisiensi energi," terangnya.
Tak hanya ukuran dan kekuatan pompa jantung yang beradaptasi, tubuh pelari yang sudah terlatih juga mengalami pembaruan dalam sistem metabolisme atau switching energy.
Jantung menggunakan sumber energi yang berganti secara efisien, mulai dari glukosa, asam lemak, hingga laktat. Hasilnya, tubuh tidak cepat kelelahan dan beban kerja jantung tetap terkendali meskipun sedang menempuh jarak jauh.
Jangan Tumbalkan Jantung Demi Validasi Digital
Memaksakan diri menembus batas maksimal demi mengejar angka HR rendah ala atlet justru menyimpan bahaya laten.
Risiko mengalami kekurangan oksigen pada otot jantung (hipoksia) hingga gangguan irama listrik jantung (aritmia) dapat terjadi apabila pelari amatir menggeber jantung hingga melebihi batas kemampuan tanpa screening medis.
Untuk porsi latihan harian dan kebugaran jangka panjang, dr Isman menekankan, pelari amatir cukup bermain di rentang intensitas moderat.
"Kalau cuman buat latihan saja sebenarnya cukup maksimal 85% (HR-nya) ya, 50%-85%. Dikerjakan tiap hari bagus. Tujuannya buat apa? Buat kesehatan, kebugaran itu aja cukup sebenarnya," tutupnya.
Simak Video "Video Mitos-Fakta: Jantung Bocor, Penyebab hingga Gejalanya"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)










































