Dokter Tidur Bicara Obsesi 'Sleep Maxing', Mau Sehat Ujung-ujungnya Malah Jadi Beban

Dendam Tidur Sepekan

Dokter Tidur Bicara Obsesi 'Sleep Maxing', Mau Sehat Ujung-ujungnya Malah Jadi Beban

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Sabtu, 10 Okt 2026 20:09 WIB
An anonymous woman waking up in bed and turning off the alarm clock on the night table in her bedroom.
Obsesi tidur sempurna kadang malah jadi beban. Foto: Getty Images/miniseries
Jakarta -

Fenomena mengejar kualitas tidur secara berlebihan atau yang kini populer dengan istilah "sleep maxing" kian marak di kalangan pekerja muda.

Demi mendapatkan istirahat yang dianggap "sempurna", tak sedikit orang berlomba-lomba memantau persentase deep sleep dan REM (Rapid Eye Movement) sleep melalui jam tangan pintar, mengondisikan kamar tidur layaknya laboratorium, hingga mengonsumsi berbagai suplemen.

Namun, alih-alih terbangun dengan tubuh bugar, terobsesi pada statistik tidur justru sering kali mendatangkan kecemasan baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar kesehatan tidur (Somnolog), dr Andreas Prasadja, RPSGT mengingatkan, tidak perlu terjebak dalam obsesi kualitas tidur yang rumit. Tubuh manusia pada dasarnya tidak menuntut parameter angka yang kompleks untuk bisa beristirahat secara optimal.

"Nggak usah tidur juga terlalu sempurna sleep maxing, dalam arti deep sleep-nya banyak, deep sleep-nya Banyak, nggak usah terlalu sempurna. Keteraturannya aja dulu deh," ujarnya kepada detikcom, Kamis (8/10/2026).

ADVERTISEMENT

Jebakan Suplemen dan "Solusi Instan" Kualitas Tidur

Di tengah jadwal kerja yang padat, banyak orang mencoba "mengakali" jam tidur yang pendek dengan mengandalkan suplemen seperti melatonin atau magnesium. Harapannya, meski hanya tidur beberapa jam, kualitasnya bisa melompat drastis.

Namun, dr Andreas menegaskan, suplemen bukanlah tongkat sihir yang bisa menggantikan kebutuhan dasar tubuh akan durasi dan rutinitas istirahat yang alami.

"Jadi nggak bisa tuh kita mau kualitas tidurnya bagus, tapi pendek (jam tidurnya). Terus konsumsi melatonin lah, konsumsi magnesium lah. Nggak bisa. Nggak bisa menggantikan tidur yang sehat," terangnya.

Kunci Utama: Konsistensi Jam Tidur dan Bangun

Akar dari kesehatan istirahat sebenarnya terletak pada pemeliharaan irama sirkadian atau jam biologis tubuh.

Ketika seseorang membiasakan diri untuk tidur dan bangun pada jam yang sama setiap harinya, tubuh secara alami akan menyesuaikan siklus pemulihan sel dan hormon tanpa perlu dipaksa oleh berbagai trik medis.

"Sederhana, ya. Sekali lagi, keteraturan itu nomor satu," pungkasnya.

Dengan mengembalikan fokus pada keteraturan jam tidur harian di hari kerja, tubuh akan mendapatkan istirahat yang berkualitas secara alami tanpa perlu terbebani oleh obsesi sleep maxing.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Bukan Tanda Tidur Nyenyak, Ngorok Bisa Jadi 'Bahaya' "
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)
Dendam Tidur Sepekan
2 Konten
Gara-gara kurang tidur karena sibuk kerja sepanjang pekan, banyak orang terpikir untuk menebusnya di akhir pekan. Dilihat dari durasi mungkin impas, tapi apa iya tidur seharian benar-benar berkualitas?

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads