Diikuti lebih dari 37 ribu pelari dari 49 negara, Jakarta Running Festival (JRF) 2026 bakal berlangsung berada di bawah ancaman cuaca terik dan polusi udara yang lagi tinggi-tingginya di Jakarta.
Menyikapi risiko keadaan cuaca yang memburuk tersebut, pihak penyelenggara menyiapkan langkah antisipasi demi keselamatan para pelari, termasuk di antaranya opsi pembatasan atau penghentian perlombaan (race).
Race Director JRF 2026, Donny Tjahyandikarta mengungkapkan, panitia mengerahkan sistem pemantauan cuaca berbasis indikator Web Bulb Globe Temperature (WBGT) di sepanjang rute balap.
Sistem ini secara real-time mengukur suhu, kelembapan, serta indikator keselamatan udara.
Bendera Hitam Jadi Tanda Pembatalan Race
Donny menjelaskan, bendera WBGT akan dipasang di titik-titik lintasan dan di tenda medis agar dapat dipantau langsung oleh para pelari.
Jika indikator cuaca dan kualitas udara memburuk hingga mencapai level paling bahaya yang ditandai dengan bendera hitam, maka perlombaan dipastikan akan segera dihentikan.
"Jadi, kita akan pantau terus dan kita akan ada taruh bendera di race, di beberapa tenda medik. Jadi, nanti pelari akan bisa melihat ketika warnanya sudah mungkin merah, itu mungkin sudah hati-hati," ucap Donny dalam sesi doorstop pembukaan JRF 2026 di Istora Senayan Jakarta, Kamis (22/10/2026).
"Dan memang kalau sampai bendera hitam akan naik, maka kita akan menstopkan race," tegasnya.
Simak Video "Titan Run 2025 Catatkan Nama di MURI"
(aur/up)