Cuaca Jakarta saat Jakarta Running Festival (JRF) 2026 disebut terasa lebih adem oleh sejumlah pelari. Namun, kondisi tersebut rupanya tidak serta-merta menghilangkan risiko heatstroke.
Salah satu pelari yang mengalami heatstroke di JRF adalah MS. Dirinya tidak lagi mampu melanjutkan lari ketika berada di kilometer (km) 20-21, sekitar 100 meter sebelum garis finis karena mengalami serangan panas.
"Di km segitu aku udah nggak ingat apa-apa. Masalahnya sih karena di awal terlalu nge-push, jadi kecapekan di akhir. Ditambah di akhir-akhir matahari udah agak panas juga," ungkap MS saat dihubungi detikcom, Minggu (25/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah mengalami kondisi tersebut, MS langsung dibawa ke tenda medis untuk mendapatkan penanganan pertama. Ia menjalani ice bath atau berendam dalam air dingin sebelum kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Cuaca Adem, tapi Masih Kena Heatstroke?
Ditanya mengenai hal ini, dokter spesialis kedokteran olahraga dr Andhika Raspati, SpKO mengatakan bahwa cuaca panas bukan menjadi satu-satunya alasan seseorang bisa terkena serangan panas.
"Heatstroke kan nggak memang hanya dari cuaca ya. Namanya panas tubuh itu kan dari dalam. Dari diri sendiri, bukan dari luar," kata dr Dhika saat dihubungi detikcom, Senin (26/10/2026).
"Justru kalau orang olahraga itu produksi panasnya karena dia bergerak. Nah kalau misalnya cuacanya panas, yang ada panas tubuhnya nggak bisa keluar, sehingga akhirnya meningkat temperaturnya," sambungnya.
Selain cuaca, lanjut dr Dhika, kelembapan udara juga sangat berpengaruh terhadap bagaimana tubuh memproses panas.
"Misalnya mendung, tapi juga lembap udaranya kan sama. Meskipun dia nggak ada sorotan matahari, tapi kalau dia lembap, yang ada panas tubuh yang muncul karena olahraga juga nggak bisa keluar," tutupnya.
(dpy/up)
