"Garam itu titik sentral hipertensi, kita kurangi asupan garam sederhana saja, tidak sediakan garam di restoran, angka hipertensi menurun," kata dr Tunggul Situmorang, SpPD, KGH di sela-sela Konferensi Pers 'Know Your Number: Cegah Risiko terkena Stroke, Serangan Jantung, dan Gagal Ginjal' di PERKI House Building, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, seperti ditulis Kamis (14/5/2015).
Sehingga, garam disediakan atas permintaan konsumen. Nah, seringnya masyarakat di Indonesia adalah belum mencicipi makanan asin atau tidak, sudah ditambah garam. Kebiasaan-kebiasaan seperti itulah yang mestinya dihindari. Sebab jika kita sudah merasa makanan asin, dikatakan dr Unggul itu berarti makanan sudah kelebihan garam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ingin Ukur Tekanan Darah di Rumah? Bisa, Begini Cara Tepat Melakukannya
Untuk pengobatan hipertensi, menurut dr Arieska Ann Soenarta, SpJP, FIHA dari RS Harapan Kita, gaya hidup sangatlah penting. Panduan untuk mengatasi hipertensi yaitu Dietary Approacges to Stop Hypertension atau diet DASH. Dalam diet ini, seseorang dianjurkan mengonsumsi lebih banyak makanan berupa biji-bijian, buah, sayur dan susu rendah lemak, serta mencukupi asupan kalsium, potasium, dan magnesium
"Kurangi konsumsi daging merah, lemak jenuh seperti minyak jelantah. Penting diingat bahwa pengurangan asupan garam yang tersembunyi dalam makanan yang dibuat pabrik berdampak paling besar. Kemudian penting juga meningkatkan kesadaran konsumen atas jumlah garam di makanan yang dikonsumsi," kata dr Ann.
"Patut diingat salt atau garam terdiri dari 40% natrium dan 60% chlor. Sumber salt tertinggi ya Na, makanya kalau makanan di labelnya tertulis Na-nya tinggi, berarti garamnya tinggi," pungkasnya.
Baca juga: Tak Cuma Tensi, Fungsi Organ Lain Juga Terganggu Asupan Garam Berlebih
(rdn/up)










































