detikhealth

Autis Parah, Romano Temukan Kepercayaan Diri Lewat Musik

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 28/07/2015 11:14 WIB
Autis Parah, Romano Temukan Kepercayaan Diri Lewat Musik
London, Ibu ini dilanda kerisauan ketika melihat putranya tak tumbuh seperti anak-anak sebayanya. Sang anak enggan belajar merangkak dan duduk, bahkan ketika diberi mainan, ia tak merespons sama sekali.

Hal pertama yang diperhatikan Tina Fallace dari putranya, Romano adalah keengganan si kecil untuk belajar merangkak, duduk, serta berjalan di usia di mana ia seharusnya belajar melakukan hal-hal itu. "Romano tak tertarik pada mainan apapun dan tidak bermain dengan teman-temannya," ungkap Tina.

Tina lantas membawa putranya itu ke dokter. Betapa hancur perasaan Tina ketika mendengar dokter menyatakan Romano mengidap autisme, gangguan pertumbuhan (global development delay) serta dyspraxia, di mana seorang anak kesulitan mengelola tubuhnya agar dapat menghasilkan kata-kata yang jelas. Saat itu usia Romano baru 18 bulan.
 
Akan tetapi dokter tak dapat memprediksi apakah Romano bisa disembuhkan dari kondisinya atau tidak. Apalagi semakin dewasa, kondisi Romano juga makin memburuk. Di usia empat tahun, Romano bisa teriak-teriak seharian di dalam rumah dan sering kedapatan membenturkan kepalanya ke lantai. "Usia lima tahun dia belum bisa bicara," kata Tina.

Hingga suatu hari ibu berusia 42 tahun itu melihat Romano ikut bernyanyi ketika TV sedang memutar acara musik. Dari situ Tina tahu bahwa putranya mampu berkomunikasi lewat musik. Ia pun memanfaatkan kesempatan itu dan menciptakan lagu-lagu sederhana yang dinyanyikan bareng si kecil tiap kali mandi, menjelang tidur atau makan.

Baca juga: Baru Bisa Bicara Umur 7 Tahun, Kalimat Pertama Bocah Ini: I Love You

Setahun kemudian, wanita yang tinggal di Willesden, London itu menemukan sebuah yayasan amal bernama Nordoff Robbins yang memfokuskan kegiatannya untuk membantu anak dan orang dewasa yang berkebutuhan khusus, dengan memberikan terapi musik.
 
Nordoff Robbins memperkenalkan sebuah alat terapi yang disebut Fraser. Menurut Tina, Fraser membantu meningkatkan kemampuan koordinasi Romano. "Saat baru pertama ketemu Fraser, Romano tak bisa melakukan hal sederhana seperti memukul drum atau simbal, tetapi sekarang sudah jauh berbeda," ucap Tina.

Putranya sudah dapat berjalan, berlari, termasuk melempar bola. Bahkan dalam sesi latihan dengan drum, Romano selalu mengungguli teman-temannya, karena ia kini telah mampu mengikuti suara ketukan dan ritme yang diberikan terapisnya.

"Kecintaan Romano pada musik sangat terlihat di sini, karena ia sudah bisa menghapal lagu hanya dengan mendengarkan di radio tetapi tak mampu melakukan hal sepele seperti memakai pakaian, mandi, dan menyikat giginya sendiri. Di usianya yang hampir menginjak remaja, Romano juga belum mampu membaca, menulis, apalagi menggambar.

"Justru lewat musik, lewat bernyanyi, kepercayaan dirinya mulai tumbuh dan ia mau berbicara di depan banyak orang," puji Tina seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (28/7/2015).

Baca juga: Karawitan, Tak Cuma untuk Terapi Tapi Juga Sarana Ukir Prestasi Siswa Autis

Baru-baru ini, Nordof Robbins berkenan memberikan kesempatan bagi Romano untuk tampil dalam sebuah konser amal bertajuk Silver Clef Awards. Meskipun pengucapannya tidak jelas, Romano memberikan performa yang maksimal dan mendapatkan standing ovation dari penonton yang hadir malam itu.

Tak tanggung-tanggung, malam itu ia ditonton oleh sejumlah musisi kenamaan seperti Rita Ora, Mark Ronson, dan Tom Jones yang menjadi idolanya. Ia juga berkesempatan berfoto bersama dengan mereka.


Romano dan penyanyi Rita Ora (Foto: Tina Fallace)
(lll/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit