Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan penemuan kasus MDR-TB ini makin meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 2015 saja ada 1.840 kasus yang terkonfirmasi dari sekitar 15 ribu suspek dari yang sebelumnya pada tahun 2014 ada 1.752 kasus terkonfirmasi.
Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr M. Arifin Nawas, SpP(K), MARS, mengatakan ada dua cara seseorang bisa mengidap MDR-TB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara pertama adalah infeksi primer yaitu di mana seorang pasien tertular langsung MDR-TB dari pasien lain yang sudah mengidap sebelumnya. Sama seperti penularan TB biasanya dari orang ke orang lewat percikan liur batuk dan bersin.
"Ini memang ancaman karena kalau menyebar seperti TB biasa, ini akan lebih sulit dikendalikan. Obatnya mahal dan pengobatannya lama jadi makanya sangat perlu sekali dari sekarang dikendalikan jangan sampai banyak menular ke orang lain," kata dr Arifin kepada detikHealth beberapa waktu lalu dan ditulis pada Senin (28/3/2016).
Tapi kita beruntung karena MDR-TB dan sejenisnya disebut dr Arifin meski punya kemampuan untuk menular secara langsung, ia menular tak semudah TB biasa. Beberapa studi melihat mutasi yang membuat bakteri ini kebal tampaknya juga membuatnya jadi lebih sulit untuk menyebar.
Cara infeksi yang kedua disebut infeksi sekunder, awalnya yang diidap oleh pasien adalah TB biasa tapi kemudian berubah menjadi MDR-TB akibat pemakaian obat antibiotik yang tak disiplin sehingga bakteri bermutasi. Nah bila hal yang sama terjadi lagi maka MDR-TB bisa berubah menjadi extensively drug-resistant tuberculosis (XDR-TB) di mana lebih sedikit lagi obat yang bisa dipakai untuk melawannya.
"Harus dikendalikan dari sekarang karena kalau nanti ke depan dia (MDR-TB) misalnya ada banyak di lingkungan masyarakat, akan jadi lebih cepat juga menularnya," tutup dr Arifin.
Baca juga: Perjuangan Budi, 19 Bulan Mati-matian Melawan Tuberkulosis Kebal Obat
(fds/up)











































