Cuitan di Twitter Disebut Bisa Prediksi Kasus Kegawatan Asma

Cuitan di Twitter Disebut Bisa Prediksi Kasus Kegawatan Asma

Hillariana Ikhlash Devani - detikHealth
Sabtu, 07 Mei 2016 10:21 WIB
Cuitan di Twitter Disebut Bisa Prediksi Kasus Kegawatan Asma
Foto: GettyImages
Jakarta - Asma adalah penyakit yang tidak bisa disepelekan. Terlambat penanganannya, bisa jadi pasien mengalami kondisi kritis. Nah, studi terbaru dari AS pun berusaha melihat potensi media sosial untuk memprediksi keadaan darurat asma.

Studi ini menunjukkan bahwa kemungkinan untuk memprediksi dan mencegah serangan asma berat dalam masyarakat, dokter dapat mencari petunjuk di media sosial. Untuk membuktikan hal itu, peneliti mengumpulkan cuitan alias tweet yang dibagikan di sosial media twitter antara bulan Oktober 2013 dan Juni 2014.

Hasilnya, tercatat 3.810 orang memberitakan tentang serangan asma yang terjadi di daerah Dallas-Fort, Amerika Serikat. Selama periode waktu yang sama, juga dicatat insiden kunjungan gawat darurat terkait asma dan rawat inap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata, ketika jumlah tweet yang berhubungan dengan asma meningkat dalam satu minggu, jumlah kunjungan gawat darurat terkait asma atau rawat inap juga meningkat secara proporsional selama minggu berikutnya.

Baca Juga: Terapi 'Gua Mineral' untuk Bantu Sembuhkan Asma

"Jika jumlah tweet yang berhubungan dengan asma meningkat sebesar 20 tweet saja dalam satu minggu, kita dapat menduga bahwa akan terjadi peningkatan kasus di 12 minggu berikutnya," ucap ketua peneliti Yolande Mfondoum Pengetnze, yang juga direktur di Parkland Centre for Clinical Innovation.

Ia menambahkan, stakeholder kesehatan dan departemen kesehatan diyakini dapat memantau aktivitas asma di masyarakat melalui media sosial. Departemen yang bersangkutan juga dapat mengantisipasi kunjungan emergency asma atau rawat inap di hari-hari berikutnya.

Lebih lanjut, Pengetze juga mengatakan dengan adanya pengetahuan akan aktivitas asma di masyarakat, pemberitahuan mungkin dapat dikirimkan oleh departemen kesehatan. Sehingga, masyarakat dapat mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan seperti menghindari paparan pemicu asma atau menjadi lebih tekun meminum obat asma.

Penulis studi lainnya Sudha Ram juga mengungkapkan penelitian ini dapat membantu mencegah beberapa serangan asma.

"Selain itu, dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengurangi jumlah kunjungan gawat darurat terkait asma dan rawat inap. Karena kita hidup di era data," ucap Ram, dikutip dari IndianExpress.

Baca Juga: Asma Tak Sembuh-sembuh, Nicole Ternyata Idap Penyempitan Paru-paru Langka


(rdn/vit)

Berita Terkait