detikhealth

Hari AIDS Sedunia

Perilaku Homoseksual Turut Memicu Tingginya Kasus HIV-AIDS di Jabar

Avitia Nurmatari - detikHealth
Jumat, 02/12/2016 10:15 WIB
Perilaku Homoseksual Turut Memicu Tingginya Kasus HIV-AIDS di JabarFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah Cemara mengungkap data bahwa di Jawa Barat, mayoritas pengidap HIV-AIDS disebabkan oleh faktor lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL).

Menurut Divisi Pelayanan LSM Rumah Cemara Eli Yati, sebelumnya penyebab HIV-AIDS di Jabar itu mayoritas dikarenakan penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

"Sekitar dua sampai tiga tahu ke belakang, tren penyebab HIV AIDS itu malah disebabkan faktor lelaki suka seks dengan lelaki atau LSL atau MSM (Male Sex Male). Sebelumnya penyebab HIV-AIDS di Jabar itu dikarenakan penggunaan jarum suntik tidak steril untuk narkoba," ujar Eli usai menjadi pembicara dalam Dialog Interaktif HIV dan AIDS yang diadakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat, di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (1/12/2016).

Lebih lanjut Eli mengatakan. Rumah Cemara kerap memberikan penyuluhan tentang bahaya penularan HIV-AIDS kepada kaum LSL yang merupakan 'hidden population'. Penyuluhan dilakukan guna mencegah penularan lebih tinggi di kalangan mereka.

"Hidden population di Kota Bandung saat banyak, salah satunya lelaki suka seks lelaki ini. Kita ada tim tersendiri yang mencoba memberikan penyuluhan kepada mereka tentang bahaya dan pencegahan HIV-AIDS," terangnya.

Baca juga: Dokter: Stigma pada ODHA Justru Banyak Dilakukan oleh Keluarga

Perilaku lelaki suka seks lelaki ini, terang Eli, juga bisa terjadi di lembaga pemasyarakatan yang dihuni oleh kaum adam.

"Kita pernah menerima laporan dari mantan penghuni lapas, kalau dia pernah melakukan LSL di lapas, jadi selama di lapas itu dia berhubungan dengan lelaki lagi sesama penghuni lapas," kata dia.

Eli menambahkan Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah pengidap HIV-AIDS di Jabar mencapai 17 ribu orang. Jabar menempati urutan ketiga terbanyak pengidap HIV-AIDS di Indonesia.

"Di Bandung sendiri jumlah pengakses obat ART (Anti Retroviral Therapy) atau antiretroviral mencapai sekitar tiga ribu orang," kata dia.

Penasaran bagaimana tes HIV dilakukan? Simak videonya berikut ini:




Baca juga: Wacana ARV Berbayar, Dikhawatirkan Banyak Pasien HIV Putus Obat(avi/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit