detikhealth

Difteri Mewabah, Kemenkes Tuding Penolakan Vaksin Sebagai Pemicu

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 04/12/2017 07:37 WIB
Difteri Mewabah, Kemenkes Tuding Penolakan Vaksin Sebagai PemicuFoto: Thinkstock
Jakarta, Difteri mewabah di sejumlah daerah di Indonesia. Kementerian Kesehatan menyebut hingga November 2017, sebanyak 95 Kabupaten/kota dari 20 provinsi melaporkan kasus difteri.

Dalam rilisnya kepada media hari ini, Kemenkes RI menyebut adanya imunity gap atau kesenjangan sistem imun di suatu daerah sebagai salah satu penyebab kerentanan terhadap difteri. Kesenjangan tersebut terjadi akibat penolakan terhadap imunisasi,

"Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk Difteri," kata Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, Senin (4/12/2017).

Terkait Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di sejumlah wilayah, Oscar menyarankan para orang tua untuk mengecek status imunisasi anak masing-masing. Jika belum lengkap, segera dilengkapi.

Imunisasi, termasuk imunisasi difteri, menurut Oscar sudah berjalan selama 5 dasawarsa. Vaksin untuk difteri diberikan dalam 3 jenis yakni vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td.

Baca juga: Difteri Juga Menyerang DKI, Sandiaga Uno Siapkan Antisipasi

Imunisasi difteri diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi di bawah 1 tahun, sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Imunisasi lanjutan atau booster diberikan pada anak umur 18 bulan sebayak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib. Anak sekolah tingkat dasar diberi 1 dosis vaksin DT di kelas 1, pada kelas 2 diberi 1 dosis vaksin Td, dan pada murid kelas 5 diberi 1 dosis vaksin Td.

Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diptheriae yang sangat menular. Gejalanya demam yang tidak begitu tinggi, sekitar 38 derajat celcius. Muncul membran atau selaput di tenggorokan berwarna putih keabu-abuan, mudah berdarah jika dilepaskan. Sering pula disertai bullneck atau pembengkakan jaringan lunak leher.

Data Kemenkes menyebut pada kurun Oktober-November 2017 ada 11 Provinsi yang melaporkan KLB Difteri, yakni Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Difteri Mewabah, Kemenkes Tuding Penolakan Vaksin Sebagai PemicuFoto: Kemenkes


Baca juga: Difteri Mewabah di Indonesia, Begini Peta Persebarannya

(up/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close