Jakarta -
Perilaku pengeroyokan dan main hakim sendiri di Indonesia masih sering terjadi. Akibatnya banyak kasus dimana korban harus dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan medis.
Baru-baru ini, seorang suporter Persija bahkan harus meregang nyawa akibat ulah brutal kelompok suporter yang mengeroyoknya. Kalaupun tidak sampai meninggal, penganiayaan semacam itu bisa memberikan dampak fatal bagi korban.
Luka-luka yang dialami juga berbagai macam, mulai dari luka secara fisik maupun non-fisik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikumpulkan dari berbagai sumber, berikut ini adalah 4 dampak yang bisa timbul oleh korban pengeroyokan.
Trauma otak
Foto: Getty Images
|
Benturan yang keras secara berulang-ulang di bagian kepala dapat menimbulkan trauma atau gegar pada otak. Hal ini bisa ditandai dengan beberapa gejala seperti pingsan selama beberapa waktu, pusing serta muntah-muntah. Proses pemulihannya pun tergantung tingkat trauma yang dialami.
Luka memar hingga sobek
Foto: Ilustrator Edi Wahyono
|
Tidak sedikit korban pengeroyokan mengalami luka memar hingga sobek pada bagian wajah. Memar yang berwarna ungu atau merah terjadi karena pecahnya pembuluh darah kapiler yang berada di dekat kulit. Sedangkan luka sobek terjadi karena adanya jaringan kulit yang terbuka, penanganannya bisa dengan menjahit jaringan luka tersebut.
Patah tulang
Foto: thinkstock
|
Tulang kita memang memiliki struktur yang unik sehingga membuatnya sangat kuat, namun bukan berarti tidak dapat terluka atau cedera. Pukulan benda tumpul yang keras seperti kayu atau bahan lainnya berkali-kali bisa menyebabkan tulang menjadi patah.
Hilang ingatan
Foto: thinkstock
|
Tindakan pengeroyokan bisa menyebabkan seseorang mengalami hilang ingatan jangka pendek. Hal ini masih berkaitan karena adanya trauma pada bagian otak. Namun seiring berjalannya proses pemulihan, kondisi hilang ingatan ini akan pulih secara perlahan.
Benturan yang keras secara berulang-ulang di bagian kepala dapat menimbulkan trauma atau gegar pada otak. Hal ini bisa ditandai dengan beberapa gejala seperti pingsan selama beberapa waktu, pusing serta muntah-muntah. Proses pemulihannya pun tergantung tingkat trauma yang dialami.
Tidak sedikit korban pengeroyokan mengalami luka memar hingga sobek pada bagian wajah. Memar yang berwarna ungu atau merah terjadi karena pecahnya pembuluh darah kapiler yang berada di dekat kulit. Sedangkan luka sobek terjadi karena adanya jaringan kulit yang terbuka, penanganannya bisa dengan menjahit jaringan luka tersebut.
Tulang kita memang memiliki struktur yang unik sehingga membuatnya sangat kuat, namun bukan berarti tidak dapat terluka atau cedera. Pukulan benda tumpul yang keras seperti kayu atau bahan lainnya berkali-kali bisa menyebabkan tulang menjadi patah.
Tindakan pengeroyokan bisa menyebabkan seseorang mengalami hilang ingatan jangka pendek. Hal ini masih berkaitan karena adanya trauma pada bagian otak. Namun seiring berjalannya proses pemulihan, kondisi hilang ingatan ini akan pulih secara perlahan.
(Christantio Utama/up)