(Catatan: sebelumnya tertulis 80 persen operasi bedah ortopedi telah tertangani. Diluruskan berdasarkan koreksi dari Sekretaris Jenderal PB IDI Adib Khumaidi. Redaksi mohon maaf atas kesalahan tersebut.)
Masalah kesehatan terkait tulang paling banyak ditemui setelah terjadinya bencana tersebut. Kebanyakan korban mengalami cedera ringan di kepala hingga patah tulang.
Sekretaris Jenderal PB IDI Adib Khumaidi mengatakan bahwa operasi tersebut dilakukan di RS Undata dan Anutapura yang telah beroperasi. Operasi tetap dilakukan dengan ketepatan tinggi dan steril, meskipun dengan perlengkapan seadanya.
"Totalnya ada 27 operasi yang telah dilaksanakan," katanya di Kantor Sekretariat PB IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).
Selain bedah tulang, tindakan lain yang banyak dilakukan adalah bedah saraf. dr Adib mengatakan bahwa IDI akan terus mengirimkan bantuan sesuai kebutuhan korban bencana alam. Selain dokter, pihaknya juga memberangkatkan tenaga kesehatan lain yang diperlukan selama proses evakuasi.
Saat ini, Palu dan Donggala belum dialiri listrik akibat jaringan distribusi yang hancur usai bencana alam. Akibatnya, tindakan medis, evakuasi, dan komunikasi tak bisa berjalan dengan maksimal. Menurut dr Adib, keterbatasan inilah yang menyebabkan pihaknya harus mempertimbangkan pengiriman tenaga dengan tepat.
Efektivitas dan efisiensi menjadi pertimbangan utama dalam distribusi tenaga medis. Jangan sampai tenaga medis banyak namun tak bisa bertugas karena sarana yang terbatas. Keahlian tenaga medis juga harus sesuai keperluan korban bencana, sehingga masyarakat memperoleh manfaat maksimal dari keberadaan relawan.