Fakta di Balik 5 Mitos Stroke yang Masih Banyak Dipercaya

Fakta di Balik 5 Mitos Stroke yang Masih Banyak Dipercaya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 26 Okt 2018 11:40 WIB
Hipertensi merupakan salah satu pemicu stroke (Foto: thinkstock)
Jakarta - Stroke seperti dialami bintang sinetron Lupus Milenia, Fahmi Bo, bukan penyakit langka. Mudah sekali menemukan serangan stroke di kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, tidak semua orang punya pemahaman yang tepat tentang penyakit ini. Akibatnya, banyak bermunculan mitos stroke yang menyesatkan. Bahkan bisa membuat pasien terlambat mendapat pertolongan medis.

Salah satunya adalah menusukkan jarum ke bagian tubuh tertentu hingga berdarah. Dokter mengatakan, mengeluarkan darah sama sekali tidak mengatasi stroke, karena stroke sendiri penyebabnya macam-macam.

Dirangkum detikHealth, berikut ini beberapa mitos stroke yang masih banyak beredar.

1. Mitos: Menusukkan jarum hingga berdarah bisa mengobati stroke

Fakta:
Menusukkan jarum di jari atau telinga hingga berdarah disebut bisa menurunkan tekanan darah, sehingga gejala stroke berkurang. Dokter sangat tidak menyarankan cara ini, karena biasanya hanya akan membuat pertolongan medis tertunda. Makin lama tertunda, peluang untuk pulih seperti semula akan semakin berkurang.

Dunia medis mengenal ada dua jenis stroke yakni stroke iskemik yang dipicu oleh penyumbatan dan stroke hemoragik yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak. Menusukkan jarum di tangan tidak akan memberikan pengaruh apapun, apalagi jika sudah terjadi perdarahan di otak.

2. Mitos: Stroke paling sering terjadi saat mandi

Fakta:
Tidak ada data valid yang mengkonfirmasi hal itu. Munculnya mitos yang mengaitkan stroke dengan aktivitas mandi diyakini hanya sebagai faktor kebetulan. Kondisi sistem kardiovaskular pada pagi hari, saat seseorang biasanya mandi, lebih berisiko memungkinkan terjadinya serangan stroke. Jadi bukan karena guyuran air saat mandi, dan jangan dijadikan alasan untuk tidak mandi.



[Gambas:Video 20detik]



3. Mitos: Stroke penyakit orang tua

Fakta:
Usia memang termasuk faktor risiko serangan stroke. Di atas usia 55 tahun, risiko meningkat 2 kali lipat. Namun usia bukan satu-satunya faktor risiko, ada banyak faktor risiko lainnya. Gaya hidup termasuk di antaranya. Kurang olahraga dan banyak makan junk food memungkinkan seseorang kena serangan stroke di usia lebih muda.

Dalam sebuah wawancara dengan detikHealth, dr Muhammad Kurniawan, SpS (K) dari RS Cipto Mangunkusumo menyebut pernah menangani pasien stroke berusia 23 tahun.



4. Mitos: Kurus nggak mungkin kena stroke

Fakta:
Kegemukan juga termasuk faktor risiko stroke, tetapi bukan satu-satunya. Beberapa pakar bahkan mengatakan lemak di bawah kulit yang membuat seseorang tampak gemuk, tidak seberapa jahat dibandingkan lemak yang tidak kelihatan. Yakni lemak di darah, kita kenal sebagai kolesterol jahat, dan visceral fat yakni lemak perut yang membuat sistem metabolisme terganggu. Keduanya sangat mungkin dimiliki oleh orang kurus.


Fakta di Balik 5 Mitos Stroke yang Masih Banyak DipercayaFoto: detikHealth


5. Mitos: Stroke itu lotere, jadi mendingan pasrah saja

Fakta:
Iya sih, siapapun bisa terkena serangan stroke. Tetapi stroke tidak serandom itu, ada banyak sekali faktor risiko yang bisa dikenali. Sebagian faktor risiko memang tidak bisa dikontrol, seperti genetik, usia, jenis kelamin, dan bahkan ras. Tetapi banyak juga faktor risiko yang bisa dihindari, seperti kurang olahraga, kegemukan, junk food, dan kebiasaan merokok.

Jadi kalau tidak ingin dapat 'lotere', hindari sebanyak mungkin faktor risiko.

(up/fds)