Dikutip dari Mirror, dokter ahli kandungan dan kebidanan serta penulis The Vagina Bible Jen Gunter memperingatkan wanita untuk tidak melakukan vaginal scraping. Prosedur yang mengikis dinding vagina ini meningkatkan risiko infeksi dan menurunkan ekosistem alami di organ intim wanita. Tindakan ini juga berisiko menyebarkan Human Pappilomavirus (HPV).
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan vaginal scraping. Jika alasannya untuk menghapus jejak mantan, vagina sudah punya sistem untuk memperbarui diri. Regenerasi seluruh jaringan vagina selesai dalam waktu 96 jam. Sementara sel permukaannya memperbarui diri tiap 4 jam. Scraping justru berisiko mengganggu prosedur ini," kata Gunter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan Gunter, dokter ahli kandungan dan kebidanan Fiona Mattatall dari Kanada juga menolak vaginal scraping. Dalam tweetnya, Mattatall mengatakan tidak akan merekomendasikan pembersihan vagina dengan mengikis lapisan dindingnya. Mattatall sendiri baru kali ini mendengar vaginal scraping untuk menghapus jejak mantan.
Menurut Mattatall, vaginal scraping berisiko menimbulkan pendarahan dan infeksi bagi wanita. Mattatall menyatakan tidak merekomendasikan vaginal scraping hingga ada riset dan penjelasan lebih lanjut terkait keamanannya.










































