Bahaya! WHO Sebut Disinfektan Tak untuk Disemprotkan ke Manusia

Round Up

Bahaya! WHO Sebut Disinfektan Tak untuk Disemprotkan ke Manusia

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Selasa, 31 Mar 2020 09:06 WIB
Upaya pencegahan penyebaran virus corona terus digalakkan sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Istana Kepresidenan hingga ruang publik begini foto-fotonya.
Bilik disinfektan di tempat umum (Foto: Antara Foto)
Jakarta -

Bilik atau chamber disinfektan saat ini mudah ditemukan, baik di area perkantoran atau pintu-pintu perumahan. Diklaim bisa penyebaran virus corona. Namun, WHO mengatakan itu sebaiknya tidak dilakukan karena bisa berbahaya jika bahan kimia disinfektan mengenai tubuh. Apalagi terkena pakaian dan selaput lendir, seperti mata dan mulut.

Hal itu disampaikan organisasi kesehatan dunia WHO melalui media sosial. Dikatakan, menyemprotkan bahan kimia seperti alkohol dan klorin bisa berbahaya jika mengenai pakaian dan selaput lendir, misalnya mata dan mulut.

"Ingat, alkohol dan klorin bisa berguna sebagai disinfektan pada permukaan, namun harus digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaannya," tulis WHO Indonesia.

ADVERTISEMENT





Tim pakar dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung menyampaikan pendapat senada, bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bilik disinfektan efektif bunuh virus. Malah, penggunaan bahan kimia ini bisa sebabkan iritasi.

"Inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernapasan," tulis para pakar ITB dalam rilisnya baru-baru ini.

Disinfektan hanya efektif untuk permukaan benda mati.Disinfektan hanya efektif untuk permukaan benda mati. Foto: Agung Pambudhy

Dokter ahli paru dari Omni Hospitals Pulomas dr Frans Abednego Barus, SpP, mengatakan bilik disinfektan itu tidak memberikan manfaat apa-apa. Jika sering digunakan, bisa mengakibatkan iritasi, batuk, dan sesak.

"Bisa saja. Bahan kimia bisa mengiritasi kulit jadi kemerahan, gatal dan mungkin terkelupas. Ke paru-paru juga mengakibatkan batuk dan sesak," ujar dr Frans.

Ahli paru lainnya, dr Rezki Tantular, SpP, selaku Ketua Bidang Humas Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan, penggunaan bilik ini bisa menimbulkan rasa terbakar pada hidung, tenggorokan kering, bahkan bisa menyebabkan alergi pada beberapa orang.

Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito menegaskan bilik disinfektan tidak direkomendasikan, karena berbahaya bagi kesehatan. Disinfektan hanya akan bekerja efektif pada permukaan benda mati, seperti lantai, meja, atau peralatan medis.

"Penggunaan disinfektan dengan ruang, chamber, atau penyemprotan secara langsung ke tubuh manusia tidak direkomendasikan karena berbahaya bagi kulit, mulut, dan mata, dapat menimbulkan iritasi," kata Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers dalam jaringan di BNPB, Senin (30/3/2020).

Untuk mencegah penularan, Prof Wiku menyarankan untuk sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, hindari menyentuh wajah dengan tangan kotor, langsung mandi saat sampai di rumah, mencuci pakaian dengan sabun, menyemprotkan cairan disinfektan saat menyetrika, serta menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain saat berinteraksi.




(sao/up)
Kontroversi Bilik Disinfeksi
11 Konten
Gedung-gedung perkantoran dan pintu-pintu masuk perumahan banyak memasang bilik disinfektan. Pengunjung diharuskan masuk dan disemprot bahan kimia tertentu untuk mematikan virus. Benarkah aman dan efektif?