ADVERTISEMENT

Selasa, 08 Des 2015 18:31 WIB

Cangkok Mr P Pertama di Amerika akan Diberikan pada Veteran Perang

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Terinspirasi dari keberhasilan Afrika Selatan, tim dokter bedah dari Johns Hopkins University, Maryland bersiap menggelar operasi transplantasi penis pertama mereka.

Yang beruntung mendapatkannya adalah para veteran perang yang pernah bertugas di Irak maupun Afghanistan dan mengalami kerusakan parah pada organ seksualnya. Prosedur ini diprediksi siap dilakukan dalam kurun beberapa bulan lagi.

Prosedur ini dirasa perlu mengingat dari catatan Kementerian Pertahanan Amerika terungkap bahwa dalam kurun tahun 2001-2013, terdapat 1.367 pria dengan usia rata-rata di bawah 35 tahun, yang mengalami cedera pada kemaluannya saat ditugaskan ke daerah konflik.

Sebagian besar dari mereka mengalami cedera akibat terkena ledakan saat sedang bertugas di Irak maupun Afghanistan. Cedera yang dimaksud antara lain kehilangan sebagian atau seluruh kemaluan, termasuk testis.

"Cedera semacam ini jarang kita dengar atau baca di manapun. Pada veteran, cedera ini juga sering tersembunyi. Tapi dampaknya, terutama bagi tentara yang masih muda, begitu besar," tutur Dr Wei-Ping Andrew Lee, seperti dikutip dari New York Times, Selasa (8/12/2015).

Dr Lee merupakan salah satu ahli bedah yang akan ambil bagian dalam prosedur terobosan ini, bersama dua rekannya, Richard Redett dan Gerald Brandacher. Dalam prosedurnya nanti, mereka akan menghubungkan 2-6 serabut saraf serta 6-7 pembuluh arteri dan pembuluh vena dari penis yang diberikan pendonor kepada resipien. Diperkirakan operasi ini akan memakan waktu mencapai 12 jam.

Selepas operasi, tim dokter akan terus melakukan pengawasan, karena diharapkan serabut saraf dari penis si tentara akan tumbuh sepanjang 3 cm tiap bulannya agar bisa menyatu dengan saraf pada penis barunya. Ini untuk memastikan penis si tentara dapat berfungsi kembali.

Baca juga: Selamat! Pasien Transplantasi Penis Pertama di Dunia Akan Jadi Ayah 

Prosedur ini diklaim akan menghabiskan biaya sebesar 200.000-400.000 dollar AS. Untuk pembiayaannya, pihak Johns Hopkins bersedia menanggung prosedur pertama. Sebagian lagi akan ditanggung oleh Kementerian Pertahanan, termasuk untuk membayar obat imunosupresi yang dibutuhkan pasien agar organ yang telah didonorkan tidak ditolak oleh tubuh penerimanya.

Untuk saat ini, tim dokter dari Johns Hopkins ini sedang sibuk mendata sejumlah veteran yang dianggap memenuhi kriteria untuk mendapatkan prosedur ini. Namun sebagai permulaan, mereka hanya akan memberikan prosedur ini kepada veteran yang memenuhi kualifikasi tertentu, seperti uretra atau kandung kemihnya masih utuh.

Baca juga: 'Penis Bionik' Bukan Barang Langka, Ribuan Pria di Inggris Memakainya 

Rencananya mereka akan menggunakan organ penis yang didonorkan dari orang yang sudah meninggal. Mereka juga memastikan akan meminta persetujuan keluarga pendonor terlebih dahulu sebelum menggunakannya.

"Kami berupaya untuk memperbaiki hal ini, tetapi kami meminta para pasien untuk tetap realistis karena fungsinya belum tentu kembali sepenuhnya. Ya kalau harapannya ingin memiliki anak, itu masih bisa diupayakan," tutup Dr Lee. (lll/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT