Selasa, 17 Agu 2021 20:29 WIB

Kenapa Betis hingga Mata Diperban Bisa Bikin Terangsang? Kenali Pemicu Fetish

Vidya Pinandhita - detikHealth
Beautiful legs Foto: iStock
Jakarta -

Belum lama ini, viral kabar di Twitter soal fetish pada perempuan dengan mata diperban. Awalnya, seorang perempuan dikontak sebuah akun Twitter, dimintai foto-foto diri sembari mata diperban.

Setelah diperiksa lebih lanjut, rupanya linimasa akun tersebut dipenuhi foto wanita dengan mata diperban dan 're-tweet' konten porno. Diduga, foto-foto korban ini menjadi pemenuh hasrat seksual pelaku. Dalam kata lain, fetisisme pada perempuan dengan mata diperban.

Mata diperban bukan satu-satunya objek fetish yang pernah terungkap. Ada berbagai objek non seksual yang kerap jadi pembangkit seksual pada pemilik fantasi tertentu, seperti sepatu, bau kentut, hingga bagian-bagian tubuh yang tidak lazim.

Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Dian Wisnuwardhani, M.Psi, Psikolog menyebut, memiliki fetish pada dasarnya adalah normal. Namun jika berlangsung terus-menerus, misalnya dorongan seksual berlangsung hingga 6 bulan dengan perilaku intens dan menimbulkan ketidaknyamanan, kondisi tersebut tergolong menyimpang atau fetisisme.

"(Fetisisme) bisa mengganggu fungsi sosial karena dia berpikir itu terus-menerus. Dia berpikir tentang perban misalnya, tentang bagian tubuh non-genital tertentu atau benda mati juga bisa sehingga dia tidak bisa bersosialisasi dengan baik begitu ya. Fungsi dalam bekerja juga berkurang tidak optimal dan mengganggu kehidupan pribadinya," ujarnya dalam program e-Life bersama detikcom, Jumat (13/7/2021).

"Jadi dia tidak bisa mengontrol, tidak bisa mengontrol dorongan seksualnya itu," lanjutnya.

Apa pemicunya?

Dian menjelaskan, terdapat banyak pemicu fetish. Mulai dari tontonan, komunikasi, hingga pengalaman sejak kecil. Pengalaman tertentu yang pernah dialami seseorang bisa membekaskan pemahaman tentang sensasi seksual. Jika terbawa hingga dewasa, ingatan akan pengalaman ini bisa menjadi pemicu dorongan seksual.

"Ini terjadi karena ada pengalaman-pengalaman di masa kecil gitu yang mungkin terpapar dengan media-media yang dia tonton, bahwa misalnya laki-laki yang oke itu ya yang pakai baju koboi, yang pakai topi gitu ya, yang naik kuda itu kelihatan ganteng banget," bebernya.

Kebiasaan lain yang kerap memicu timbulnya fetish adalah mengganti nama alat kelamin dengan kata lain yang terkesan lebih halus. Dian mencotohkan, beberapa anak diajarkan menyebut 'penis' dengan 'tongkat' dan vagina dengan 'lubang'.

"Kalau dia berimajinasi bolongan itu artinya bisa ada sensasinya, di situ dia nanti menganggap semua bolongan yang dia lihat bisa meningkatkan hasrat seksual," jelas Dian.

"Kalau bicara tongkat atau penis dia inget kalau mimpi basah itu main tongkat. Kalau dia mendengar kata tongkat itu bisa meningkatkan hasrat seksual. Itu berbahaya sebenarnya," pungkasnya.



Simak Video "Geger Fetis Mata Diperban"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)